Tampilkan postingan dengan label catatan harian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label catatan harian. Tampilkan semua postingan

Rabu, 11 Juni 2014

Tujuan Hidup?



 (Sumber gambar : Google)

Sudah lama tidak mengetikkan kata-kata basi, kalimat-kalimat elegi, maupun tragedi yang disulap menjadi ironi. Sudah lama pula tidak berjumpa dengan portal maya ini, menuliskan apa yang tidak seharusnya tertulis, menyusun kata yang tidak seharusnya tersusun menjadi sebuah kalimat. Terlalu lama hingga lupa dengan gaya bahasa sendiri, lupa dengan logat-logat yang terbiasa terlontar, dan berakhir dengan bertele-tele seperti ini.

Namun tetap ada satu hal yang masih mengganggu. Terngiang-ngiang menjadi sebuah pertanyaan yang sama yang dilontarkan bertubi-tubi dan tetap saja aku masih belum bisa menjawabnya, belum sanggup tepatnya. Masih sama, masih seperti beberapa tahun lalu setelah aku meninggalkan sekolah, pertanyaan ini belum juga terjawab.

“Apa tujuan hidupmu ?”

Berkali-kali aku mencoba bertanya pada diriku sendiri, tapi hingga sekarang aku belum bisa menjawabnya dengan pasti, belum sanggup menyatakannya dengan lantang, dengan keberanian untuk menetapkan tujuan hidupku sendiri. Mungkin aku masih terlalu lemah dan tidak percaya pada diriku sendiri.

Tujuan? Dulu aku berpikir tujuan hidupku adalah menikmati hidupku. Namun aku tak kunjung menikmati hidupku dan berakhir dengan bermalas-malasan dan menghambur-hamburkan uang untuk hal-hal yang tidak begitu penting. Kemudian aku berfikir, ini begitu tidak berguna, ini tidak ada artinya, dan malah menjadi beban orang tuaku. Dan aku tahu pasti ini bukan tujuan hidup, tapi malah merepotkan hidup orang lain, menjadi beban. 

Lalu aku berfikir, aku ingin menjadi orang yang lebih berguna dan aku mencoba menjadi relawan, menjadi bagian dari sebuah organisasi. Tapi apa? Bahkan hampir setahun aku tidak merasakan aku ini adalah relawan, karena kau tau apa, semua kegiatan yang aku ikuti hanya  bentuk dari program kerja yang harus segera usai dan harus segera dikerjakan laporan pertanggungjawabannya, membuat bosan dan ingin segera hengkang karena serasa terkekang.

Kemudian sekarang aku mulai berteriak-teriak pada diriku sendiri.

“TUJUAN HIDUPMU ADALAH KELUARGAMU DAN KELUARGA BESARMU. MEREKA MENARUH HARAPAN BESAR PADAMU. JANGAN KECEWAKAN MEREKA. KAMU, KAMU YANG HARUS BISA DIANDALKAN, KAMU HARUS BISA MENJADI TEMPAT MEREKA BERGANTUNG KETIKA MEREKA KESUSAHAN, KAMU HARUS BISA MEMBANTU MEREKA”

“KAMU HARUS BISA MENJADI ORANG, ORANG YANG BISA DIANDALKAN”

Berkali aku teriakkan itu, terngiang-ngiang perkataan mama, bapak, budhe dan bulekku.

“Awakmu kudu dadi wong sukses ndik, ben iso ngewangi dulur-dulurmu seng kesusahan, ngewangi budhe lan bulekmu sing wes mulai berumur iki. Dadi bocah sing iso dibanggaake mama karo bapakmu iki” 

Inikah tujuan hidupku? Bagaimana caraku mengeksekusinya? Sementara diriku yang sekarang ini tidak mempunyai minat pada apapun, tidak ingin berharap apapun dan tidak ingin melakukan apapun.

Inikah? Aku masih takut.

Asal aja - Kepala gue nyut-nyutan !!!!

Ini gue gatau kenapa kepala gue daritadi nyut-nyutan. Mungkin efek minum tolak angin siang-siang (T___T)

Terus karena kepala gue nyut-nyutan gue jadi bingung mau ngapain, bingung mau ngerjain apa, ngeliat file judulnya "skripsi", "draft bojep", "data curah hujan harian maksimum" ,"data volume genangan" malah tambah nyut-nyutan.

Udah berhari-hari ini kerjaan sehari-hari gue cuman bengong, udah itu bengong dan bengong lagi.

Gue tau, kalo kebanyakan bengong kaya gitu sama aja gue buang-buang waktu. Makanya dengan acara sok-sokan kemaren gue pengang buku suripin lagi. Dan endingnya gue berhasil ngebaca "satu paragraf".

Yah cuma satu paragraf. Ternyata kapasitas otak gue saat itu cuma mampu menampung curhatan pak suripin tentang drainase itu. Dan lagi-lagi gue balik bengong.

Biar gak bengong gue sok ide lagi, cari info-info yang nyangkut tentang skripsi gue di internet. Tapi endingnya 1 tab itu terkalahkan oleh tab-tab lainnya yang isinya facebook, kaskus, detik dan tab-tab lainnya tentang harga-harga lensa.

Ngomong-ngomong soal lensa, gue lagi ngidam lensa sapu jagad alias lensa yang bisa dibuat makro bisa juga dibuat tele. Berhari-hari, berjam-jam gue cari-cari harga lensa seken yang agak murah dan bisa diterima sama kantong gue, kantong mahasiswa.

Sekalinya nemu yang agak murah, lensanya jamuran, kalo ga ada fognya, kalo ga apanya ada yang retak, auto fokusnya ga jalan. Namanya emang lensa seken kali ya. Pas udah nemu yang oke gue liat ATM gue.

Gue lupa duit gue bulan ini tinggal 200 ribu. Mau minta malu. Masa buat seneng-seneng minta-minta duit *padahal sering, haha*

Tapi emang kalian juga pasti kaya gitu kan, ga bakal minta tambahan duit buat seneng-seneng doang atau cuma sekedar buat hobi. Masti mati-matian nabung, dibela-belain kelaparan ato paling maksimal pake duit beasiswa. Haha.. tapi yang terakhir ini kalo ga kepepet juga ga bakal dipake. Haha.. Atau kalo ga separo dari duit beasiswa buat nambahin bayaran kosan, seperempat tabungan, seperempatnya buat seneng-seneng. Haha...

Udahan ah, haha.. 

Selasa, 10 Juni 2014

Kebutuhan.



(Sumber gambar : Google)

Tiba-tiba muncul hal seperti ini dikepalaku

"Jarum-jarum menusuknya perlahan, tapi dia hanya terdiam. Pasrah membiarkan kulitnya ternoda oleh jejak-jejak tajam yang menyusupkan penawar racun ke dalam tubuhnya. Dia tidak bisa berkata apa-apa. Bertahan akan rutinitas yang akan menjaga hidupnya lebih lama itu. Bukan sesuatu yang adiktif yang membuatnya ketagihan, hanya sesuatu yang dia pertahankan karena hanya itu cara untuk mempertahankan detiknya berdetik lebih lama."

Terkadang orang-orang yang tidak merasakan jarum-jarum pengobatan pun seringkali terhujam dalam kebutuhannya akan sesuatu. Kebutuhan yang akan tetap dia lakukan walaupun itu menyiksa dirinya.

Kebutuhan akan sesuatu yang membuat senyumnya terkulum lebih lama, kebutuhan akan sesuatu yang membuat otaknya menjadi lebih jernih, kebutuhan akan kebersamaan yang bisa menambah detiknya hingga waktu yang tak tentu.

Kebutuhan yang tidak sepenuhnya dia tahu dia begitu membutuhkannya.

Kebutuhan yang menjadi rutinitas yang terpatri oleh intensitas.

Tiba-tiba semut

(Sumber gambar : google.co.id)

Saat iseng ngebuka-buka laptop tiba-tiba perhatian mata ini teralihkan oleh semut-semut yang berada di sekitar laptopku. Bukan karena aku atau laptopku manis sehingga semut-semut ini ada disini, tapi memang karena si semut lagi iseng muter-muterin laptop.

Semut-semut ini seakan-akan berjalan tak beraturan, dengan langkah kaki yang tergagap-gagap, terkadang berhenti dan terkadang berjalan dengan cepat. Aku melihat mereka seakan-akan mereka sedang kebingungan, berjalan kesana kemari, bahkan terkadang sampai tidak melihat rekan mereka yang jaraknya mungkin hanya sekedar 5 senti.

Aku tak tau apa yang mereka cari, apa yang mereka inginkan. Tapi menurut dugaanku mereka sedang mencari makanan. Yah mereka mencari makanannya masing-masing. Namun ketika salah satu dari mereka menemukan lokasi makanan tersebut, semut-semut lainnya tiba-tiba berbondong-bondong datang.
Beramai-ramai menghampiri sumber makanan tersebut dalam barisan yang begitu rapi. Dan tak lama kemudian, terlihatlah sebuah kerjasama yang begitu apik. Mereka mengangkat makanan itu bersama-sama, berjalan bersama-sama. Yang tidak ikut mengangkatpun mengiringi di belakang, menjaga apabila tau-tau diserang musuh macam manusia yang suka iseng menyemprotkan baygon padahal jelas-jelas mereka sedang bekerja.

Lalu? ya tidak ada lalu-lalu.

Semut saja bisa bekerjasama, dengan cara mereka sendiri, dengan pembagian tugas yang hanya mereka yang tahu. Masa manusia disuruh kerja sama aja ogah, udah dikasih tugas malah mangkir. Pura-pura lupa tugasnya apa, hingga malahan temennya yang lain jadi kena batunya. Harusnya ya jangan mau kalah sama semut.

Jumat, 10 Januari 2014

Untitled.

Ada yang kosong, memelas meminta tahta akan sesuatu tak nyata. Bergumul dalam kepala sang raja, apa ini sesuatu yang hendaknya dihujat untuk mati, dicerca agar tak bernyawa. Ataukah ini hanya sekelebat derma yang seakan-akan disucikan padahal hanya janji buta yang maya, tak ada bentuknya.

Lalu disana, banyak penduduk yang seakan tak bermata. Memandang semuanya dengan telinga, mendengar semuanya dengan rasa. Lalu hanya bisa menghujat dan mengiba dengan mulutnya. Seakan mereka sudah mati fikirnya, lenyap akalnya, hanya bertindak berdasar apa yang mereka suka.

Di sisi lain ada manusia-manusia lain yang tak berpedoman pada apapun, tak mempercayai tahta sang raja, hujatan penduduk, bahkan tidak peduli dengan langit yang bukan langitnya, bumi yang bukan buminya dan tanah yang bukan tanahnya. Mereka punya akal, terlalu pintar untuk  dikatakan tak berakal. Mereka hanya tak peduli, tak mau mengerti.

Rabu, 18 Desember 2013

Dunia memang begitu lucu

Terkadang hidup begitu lucu. Dulu ketika kau memilih menutup matamu, semua seakan baik-baik saja. Dia, mereka dan semua orang yang ada didepanmu adalah sosok-sosok yang mengagumkan, membuatmu terpana dengan segala kisah mereka, segala polah mereka, seakan mereka begitu sempurna.

Dulu ketika kau menutup matamu, dunia seakan baik-baik saja. Tak ada yang perlu kau khawatirkan kecuali kisahmu sendiri dan bagaimana kau makan esok hari. Dulu, ketika kau menutup matamu dan acuh dengan dunia di sekitarmu.

Namun "dulu" telah dihujam kata "melaju". Waktu melaju. Dan kisah tetap berlanjut.
Dan aku katakan lagi, dunia begitu lucu.

Ketika mata mulai terbuka. Semua kisah semakin terlihat nyata. Namun sekarang semuanya tidak begitu terlihat sempurna. Ada retak di kanan kiri. Bahkan ada kawat-kawat yang mencuat dari pondasi yang mereka bilang dibangun lebih dari seabad yang lalu saking lamanya.

Dan tokoh juga silih berganti. Dalam cerita yang sama dengan topik yang sama. Mungkin kau dulunya adalah tokoh utama, namun waktu berkata lain dan tanpa kau mau kau menyingkir karena Sang Sutradara berkata lain.

Ada pula dua cerita yang berbeda, dengan tema yang sama dan aku mendengar dari sisi yang berbeda. Dan ketika aku hubungkan keduanya, aku rasa intinya sama. Dunia memang begitu lucu.

Banyak hal yang menyakiti, banyak mulut yang terlalu berambisi, banyak tingkah yang tidak terprediksi. Karena inilah dunia, inilah dunia yang begitu lucu. Saking lucunya hingga akhirnya kau yang dulu menertawakannya sekarang dunialah yang menertawakanmu. Karena dunia begitu lucu dan kamu hanya cukup bersyukur untuk dunia yang begitu lucu ini.

Aku mencium bau perpecahan.

Aku mencium bau perpecahan. Disaat setiap orang mulai lelah dan merasa terbunuh oleh rutinitas. Disaat beban setinggi kepala terus menumpuk hingga tak lagi mampu ditahan. Dan ketika penat merajai ubun-ubun, membuat kepala ingin meledak dan semua orang tidak bisa menahannya, aku mulai mencium bau perpecahan.

Aku mencium bau perpecahan. Ketika kawan menjadi lawan, bahkan untuk sesuatu yang tidak benar-benar diharapkan. Ketika ucapan adalah sebuah dusta yang dipertahankan, dibenarkan dengan segala pembenaran. Ketika ingkar terungkapkan dan ikatan menjadi berantakan. Aku semakin mencium bau perpecahan.

Rutinitas, benci, ingkar, dusta, dan pisau yang menghujam dari belakang, aku mohon kalian bisa memaafkannya.

Agar aku dan kalian tak lagi mencium bau perpecahan diantara ikatan yang sudah susah payah kita pintal bersama.

Gue kangen rumah

Ini gue lagi di tengah prosesi ngerjain sanling. Gue bilang prosesi karena kalo kata gue tugas ini bener-bener sakral, selain susah jumlahnya juga banyaknya naudzubillah. Dan tiba-tiba gue stuck karena gue bahkan gak bisa nentuin poin-poin apa aja yang diketahui. Bayangin aja, setiap ngerjain soal kan pasti selalu ada poin diketahui, ditanya, dan dijawab, atau kata guru SD gue dulu itu 3D. Dan yang gue ga paham adalah kenapa bahkan untuk menentukan D yang pertama alias poin diketahui aja susahnya minta ampun.

Apa guenya aja yang terlalu odong sampe gitu aja kaga bisa, atau emang karena si materinya ini aja yang rajanya edi. Udahlah, bukan itu esensi yang pengen gue ceritain hari ini. Sebenenernya gue ga pengen bener-bener cerita, gue cuma pengen bilang "gue kangen rumah".

Iya gue kangen rumah tiba-tiba.

Tiba-tiba aja pas ngerjain soal dengan rumus seabrek kaya gini gue jadi keinget kebiasaan-kebiasaan gila gue dirumah pas gue lagi stuck ngerjain soal. Aneh, orang rumah bilang gue aneh, tapi mereka ga protes, paling cuma geleng-geleng kepala aja lalu yaudah gue bisa sesuka hati ngelakuin hal-hal absurd di rumah. Ketika gue lagi stuck ngerjain soal dan kepala gue pusing tuju keliling, gue tiba-tiba ambil helm dan gue pake selama gue ngerjain tu soal dan itu cukup ngebantu kepala gue biar tetep kenceng dan otak gue ga keluar kemana-mana selama ngerjain soal. Dan ketika tetangga gue ngeliat gue, paling dia cuma ketawa dan geleng-geleng kepala dikit, gak protes ga apa (yaiyalaahhh.. haha).

Atau gue tiba-tiba ambil ikat kepala, pokoknya apapun yang bisa ngiket kepala gue, selendang lah, selimut lah, slayer lah, hasduk pramuka gue, dasi gatau punya siapa, bahkan mitela gue juga. Yang penting otak gue ga keluar kemana-mana.

Kadang-kadang gue juga muter-muter ketempat sodara-sodara gue yang notabene tetangga gue sendiri. Yah muter-muter, gue cuma jalan masuk dalam rumah mereka tanpa duduk bahkan tanpa nyapa masuk dan keluar dari rumah sodara gue dan balik lagi ke rumah gue.

Yang paling gue suka adalah gue ngerjain semua perhitungan di lantai, yah di lantai. Bahkan bapak gue sering protes karena harus selalu ngebersihin lantai karena gue corat-coret karena gue udah keburu tepar sebelum ngebersihinnya. Untung gue ga punya inisiatif corat-coret tembok, bisa-bisa bapak gue harus ngecat tembok setiap hari.

Dan yang paling ga bisa gue lakuin disini adalah nyetel lagu sekenceng-kencengnya dan gue nyanyi teriak sekenceng-kencengnya. Karena disini bukan rumah gue, ada banyak kepentingan , dan ada banyak mulut-mulut kejam yang suka mencerca orang yang berisik, padahal orang yang berisik sedang ingin melepas penatnya.

Kapan gue pulang?
Gue dari kapan tau udah ngeliatin kalender nyari hari libur buat pulang. Dan tanggal 25 besok libur, gue pengen pulang dari tanggal 24 tapi kepentok gara-gara ada praktikum hari jum'atnya tanggal 27. Apa gue harus bolos?

Minggu, 15 Desember 2013

Tingkat akhir cooyy !!!

Umur ini sudah semakin menua. Sudah menginjak kepala dua. Tanpa terasa waktu berlalu terlalu lama. Bahkan aku tak sepenuhnya sadar, hidupku ternyata telah dirampas oleh rutinitas.

Sepertinya baru beberapa waktu yang lalu bocah ini masuk TK, merasa phobia dengan semuanya, bahkan sampai tak ingat teman sepermainannya di sekolah pertamanya itu, kecuali dua anak kembar yang notabene tetangga sebelah rumah. Dan waktu berlalu, satu tahun berlalu, merengek untuk dipindahkan karena ketakutan. Dan akhirnya terdampar di sekolah selanjutnya. SD.

Melanglang ke sawah, mencari belalang dan capung, masuk ke kali, bersepeda berkeliling kampung, bermain bola karena mengagumi tsubasa. Aku rasa masa kecilku cukup normal, belum sepenuhnya dirampas oleh si rutinitas, karena masih masa bodoh dengan nilai dan lebih memilih bermain hingga badan gosong karena dibakar matahari.

Dulu ketika SD aku berfikir, SMP itu pasti menakutkan. Dan tiba-tiba tak terasa aku sudah duduk di bangku SMP dan berfikir bahwa SMA pastilah lebih menakutkan. Nyatanya tanpa terasa, karena rutinitas yang sama setiap harinya, tiba-tiba besoknya aku sudah berada di jenjang yang berbeda.

Lalu, sekarang?
Sudah kuliah, sudah tingkat akhir malah. Padahal sepertinya baru beberapa waktu yang lalu aku masih menatap wajah bapak ibuku sebelum merantau ke kota hujan ini.
Mau dikata apa lagi, tiga tahun ternyata sudah terlalui, dengan IPK yang terus-terusan terjun payung dari IPK awal. Semoga di tahun terakhir ini bisa semakin membaik, lancar menjalankan segala kegiatan dan mendapatkan kebiasaan-kebiasaan yang baik.

Di tingkat akhir ini aku harap semuanya berjalan dengan lancar. Aku dan teman-teman SIL 47 bisa menyelesaikan skripsi kami dengan baik dan mendapatkan ilmu yang berguna nantinya untuk pekerjaan kami nantinya. Dan aku harap kami bisa lulus tepat waktu, membanggakan orang tua kami, dan membanggakan almamater kami.

Amin.

Kau, cobalah belajar untuk mendengar.

Kau, cobalah belajar untuk mendengar. Sebagai orang baru tak pantas untukmu memaksakan kehendakmu sendiri. Kau terlalu idealis atau apa juga aku tak peduli. Tapi kalau kau memang benar-benar idealis, aku kecewa denganmu. Si idealis tidak memaksakan kehendaknya seperti itu, si idealis harusnya mempelajari lingkungannya, bukan untuk memaksa, tapi untuk memahami dan membuat mereka mengerti.

Mungkin caramu tak sama dengan cara kami, tapi itu bukan berarti menjadi alasan untukmu untuk mengubah cara kami menjadi cara yang kau mau. Kau yang orang baru, tetapi malah kenapa kau yang mencoba memaksakan kehendakmu. Harusnya kaulah yang harus membaur dengan kami, mempelajari lingkungan kami, membuatmu mengerti kenapa kami seperti ini, membuatmu diterima dengan baik-baik disini, bukan malah mencari musuh dengan sikap seolah kau ini yang paling benar.

Kau, kau sebaiknya belajar untuk mendengar agar kau didengarkan. Kau sebaiknya belajar menghargai agar kau dihargai. Kau sebaiknya belajar untuk mencoba mengerti untuk bisa dimengerti.
Semakin kau paksa, orang akan semakin malas denganmu.

Berjalanlah kawan.

Tidak, tidak ada yang remeh. Berjalanlah. Langkahkan kakimu kemanapun kau mau. Kadang kau memang harus berjalan sendiri. Kadang kakimu sendirilah yang membawamu ke tempat yang menentramkan jiwamu, bukan karena mereka atau siapapun.

Kau tidak harus memaksakan tawa, tidak harus merubah warnamu seperti warna mereka. Kau hanya perlu menjadi kau, dirimu sendiri.

Kau tidak perlu terus-terusan mencecar untuk sesuatu yang tidak kau suka, terkadang kau hanya perlu menerima. Karena terkadang bertoleransi untuk mendengarkan lagu yang tidak kau suka tidak melulu buruk, kau bahkan bisa mencoba menyukainya dengan caramu sendiri.

Kadangkala kau memang butuh seseorang untuk membuatmu ada, tapi bahkan tanpa mereka kau masih tetap ada. Kau ada karena dirimu menganggap dirimu ada. Itu saja cukup dan kau bebas berlari semaumu di tamanmu sendiri. Menggumpalkan awan yang akan menghujani tanahmu sendiri, menumbuhkan bungamu sendiri, pohonmu sendiri yang bisa kau tata sesuka hati dengan lanskap yang kau rencanakan sendiri.

Lalu aku akan bergabung bersamamu, aku dengan caraku sendiri dan kau dengan caramu sendiri.
Mungkin memang kita dulunya adalah jiwa-jiwa yang mati. Tapi bukan berarti kita tidak bisa hidup lagi. Dan semua kenangan buruk akan masa lalu, aku harap kita mampu melupakannya, menguburnya. Menjadikannya pupuk untuk menumbuhkan hal-hal baru yang lebih menyenangkan, memberikan kita esensi bahwa hidup akan lebih indah lagi dengan pelajaran yang kita dapat darinya, dari keburukannya.

Dan bukan berarti kita lupa untuk berkaca, menjadi tahu diri untuk apa yang telah mereka berikan kepada kita. Bahwa meskipun kita sendiri dengan cara kita sendiri, ada orang-orang disana yang menerima cara kita, dengan sengaja ataupun tak sengaja. Menerima kita apa adanya, seperti kita menerima mereka apa adanya.

Jumat, 06 Desember 2013

Lagi ngobrol sama phil.

Hai phil, tidakkah kau rindu pada saudaramu lil?
Sudah lama kalian tidak bertemu, apakah dia masih seperti dulu adanya? Mungkin dia menjadi lebih dewasa, lebih bijak dari biasa. Mungkin dia telah menjelajah dunia yang dulu diidamkannya.

Catatanmu darinya menghilang bukan berarti kau menghilangkannya dari hidupmu. Saudara tetaplah saudara. Sahabat tetaplah sahabat. Walau bertahun kau tak berjumpa, tak bertukar sapa, tetap saja dia adalah dia adanya.

Terkadang kau ingin meneriakkan namanya, mendengar suaranya, mendengar ceritanya, bernyanyi bersamanya. Tapi ada yang menghalangimu. Kau takut ada yang berubah, kau takut dia menganggapmu berubah. Kau takut dia tak lagi mendengarkanmu ketika kau membagi keluh kesah. Kau hanya takut dan tiba-tiba hingga bertahun-tahun kalian tak lagi berbagi kabar dan dia semakin tersamar.

Kau ingin menyapanya tapi kau ragu, apa dia akan menjawabmu seperti dulu dia menjawab segala bincangan tak pentingmu. Sekali dua kali kau coba, seakan orang yang berbeda yang menanggapimu. Seakan ketus, dan menganggapmu orang asing. Atau itu hanya bayanganmu saja?

Kau phil, walau kau tak pernah berjumpa dengannya, walau kau tak lagi mendengar suaranya. Jangan pernah lupa, dia dulu adalah orang yang selalu menghargaimu, dan kau pun menghargainya. Dia orang yang kau kagumi setengah mati, yang memberimu inspirasi, yang mengajarimu bermimpi alih-laih terus-terusan membual setiap hari. Dia yang mengajarimu berfikir lebih logis, menumbuhkan bakatmu yang malah kau matikan sendiri sekarang.

Dia saudaramu. Sahabatmu.

#Edisi ngomong sama boneka kura-kura

Selasa, 03 September 2013

Bagaimana Rasanya

Bagaimana rasanya kamu dikukuhkan dengan segala tendensi, dengan segala preferensi yang membenarkan satu hal yang sering kamu sebut dengan ilusi. Sedangkan jiwamu perlahan-lahan mati, dibunuh oleh segala inginmu akan dunia. Dan kamu dengan bodohnya masih terus tertawa, mencoba mengisi apa yang melompong, mencoba mengisi kematian jiwamu dengan humor yang tidak kamu mengerti. Padahal aku tahu, kamu ketakutan setengah mati.

Kamu menunda semuanya, bahkan kau juga menunda waktumu untuk menghidupkannya lagi. Kamu terlalu kiri, selalu mengagungkan otak kiri. Mendewakan rutinitas yang sama setiap hari. Hanya untuk pengakuan sehari kamu berupaya setengah mati, tapi tidak ada jejak yang kamu tinggalkan sebagai sebuah jejak memori, pudar begitu saja karena terlalu geli untuk memikirkannya kembali.

Sabtu, 24 Agustus 2013

Surat untukmu dari dirimu.

Terima kasih untuk waktu yang telah dibuang-buang selama ini ndik. Memang banyak yang harus disesali tapi untuk menghabiskan seluruh waktumu hanya untuk menyesali apa yang telah kamu lakukan, rasanya itu benar-benar membuang waktumu jauh lebih banyak. Kau melakukan suatu hal dan kau salah dan kau menyesalinya itu wajar. Namun ketika kau berdiam diri tidak melakukan apapun, lantas kau berharap sesuatu yang baik akan datang kepadamu dan kau terus-terusan menunggu hingga apa yang kau harapkan itu tak kunjung datang, lalu kau mulai marah pada dirimu karena tidak melakukan apapun lantas kau menyesalinya, aku pikir kau aneh.

Kau bisa berkehendak, kau bisa berharap apapun, namun ketika ada orang lain menekanmu kau begitu ketakutan. Takut orang itu tak akan mempercayaimu lagi, takut orang itu akan pergi dan meninggalkanmu, takut orang itu tak akan menemuimu lagi, dan kau akhirnya mengikuti apa yang orang lain inginkan hanya karena kau takut sendirian. Yah, kau takut sendirian.

Kau bisa berucap, tertawa kencang, berteriak lantang, namun ketika pendapatmu tidak sepaham dengan mereka kau malah terdiam. Dimana keberanianmu? Lenyap kemana? Kau punya hak untuk bersuara, bukan hanya memendamnya sendirian. Kau begitu takut ditertawakan, takut dianggap remeh, hingga akhirnya kau hanya bisa bilang iya, dan tidak menolak apapun yang mereka katakan, hanya karena ketakutan kau akan dianggap rendah. Kau hanya ketakutan.

Lantas apa? Aku tidak ingin mengumbar apa-apa, aku hanya ingin memperingatkanmu. Kau juga manusia yang layak untuk menjadi berani, tidak ada yang menghalangimu bahkan dirimu sendiri. Ketakutanmu selama ini kau sendirilah yang menciptakannya. Bahkan ketika kau berfikir kau akan menjadi kau yang lebih berani, aku yakin pasti semesta mendukungmu, begitupun aku, dirimu ini.

Aku tidak akan memaksamu, karena akupun merasakan ketakutan yang sama, namun aku akan menjadi berani untuk diriku sendiri, perlahan, mengubahmu menjadi seseorang yang tak takut dicap sebagai orang mati ataupun orang yang tak tahu diri. Karena berdiri itu hak setiap orang, berlari juga hak setiap orang. Kau bisa berusaha. Siapa bilang orang itu tercipta seperti adanya sekarang. Semua orang berusaha, begitupun kau, begitupun aku.

Selamat berusaha lebih keras, untuk hidup yang lebih berani, untuk hidup yang lebih tahu diri dan memahami serta lebih mengerti tentang hakikat hidup atau mati, sendiri atau bersama, dan bersosialisasi lebih baik serta lebih bisa mengontrol diri sendiri dan lebih bisa menempatkan diri.

Salam,
Otak Kecilmu.

Rabu, 31 Juli 2013

Di suatu sore..

Di suatu sore ketika saya pulang dari tempat praktik lapang, saya melihat ada sebuah keluarga yang berjalan di depan rumah kos-kosan saya di malang. Seorang ayah, seorang ibu dan seorang anak perempuannya. Kala itu hujan turun rintik-rintik, hanya gerimis yang membesar perlahan ketika matahari setengah hati menyinari. Tapi tetap saja, ini malang, dingin.
Sang ayah membuka payung yang dia bawa, tak terlalu besar, hanya cukup untuk dua orang saja. Dan sang ayah mengalah, membiarkan payung tersebut digunakan anak dan istrinya. Dengan tangan yang masih menggandeng tangan anak perempuannya dengan tangan kiri dan tangan kanannya memegang bungkusan plastik, dia tetap berjalan beriringan dalam hujan.
Hingga hujan akhirnya mengalah dan berhenti dan sang matahari datang lagi walau masih setengah hati. Sang ayah menutup payungnya lagi dan membawa payung tersebut.
Bahkan dia masih mau membawanya ketika dia sama sekali tidak memakainya. Karena dia seorang ayah dan dia seseorang yang harus melindungi keluarganya.

Begitulah hidup, memang harus ada yang dipercaya untuk melindungi keluarga dan itu tugas ayah. Tak peduli seberapa berat hidupnya, seberapa berat pekerjaannya, dia telah diberi tanggungjawab yang begitu besar. Namun sekarang banyak tokoh ayah yang bahkan malah tak bisa diandalkan sama sekali. Pergi meninggalkan istri dan anaknya hanya untuk kepuasan pribadinya, hanya untuk bersenang-senang dengan alasan pekerjaan sedang anak dan istrinya merindukan kehadiran sosok ayah dalam hidupnya.
Hidup memang begitu aneh. Di sisi lain ada manusia-manusia yang begitu baik, di sisi lainnya lagi semua orang terlihat begitu buruk, begitu busuk.

Kamis, 25 Juli 2013

Akhirnya BAB EMPAAATTT !!!!!



Akhirnya setelah berkutat sekian lama dengan laptop pinjaman dari mama ini, sampai juga di bab empat :'(
Jenuh, penat, dan bosannya setengah mati harus mengerjakan laporan PL ini. Sampai-sampai harus melarikan diri ke pos pantau spillway cuma buat ngerasain angin yang super duper kenceng itu, biar bosennya kebawa angin :'(
Istirahat dulu !!!

Data mana data ??? ke wlingi kapan ke wlingi? Saya butuh dataaaa !!!!!

Senin, 15 Juli 2013

Salah Satu Siklus

Aku terpaku dalam siklus yang terbiasa terjadi, yang tak tahu kenapa sejak dulu jadi kepercayaan hati. Seperti aku dengan angin, aku dengan pantai, aku dengan darmaga sore itu, aku dengan awan dan langit. Aku menyukai hal-hal itu, aku menyukainya aku menikmatinya. Menghabiskan berjam-jam di jalan dengan sepeda atau dengan motor pinjaman hanya untuk berputar-putar merasakan angin, mengejar awan yang sama, mengelilingi jalan dengan pikiran yang dibuat hampa, aku menikmatinya. Seperti ketika aku terhenti di darmaga pantai sore itu, terdiam mendengar hembusan angin menyapa, menceritakan tentang kisahnya tentang sepinya dirinya hanya bersanding dengan laut. Terdiam berjam-jam, mendengarkan ombak yang sedang bermain-main dengan angin, berderu riuh, aku ingin turut serta, tapi apa daya aku hanya mampu memandang laut tanpa berani masuk ke dalamnya.

Menatap awan pun, begitu menyenangkan. Bentuk-bentuk tak terduga yang tercipta, ruang-ruang hampa yang memperlihatkan langit yang biru. Atau malah gumpalan hitam yang begitu menyeramkan, apa kau ingin mengamuk awan? Melihat awan seperti sedang menautkan hati dalam imajinasi, menjadi apa yang ingin aku lihat, dengan persepsiku sendiri dengan bentuk-bentuk mereka sendiri, dilebur dalam imajinasi.

Dan aku terus mengulanginya selagi bisa, berjalan sambil melihat langit, bersepeda dengan melihat langit, adu balap cepat dengan angin walau akhirnya aku yang selalu mengikutinya. Dan hampir selalu berakhir di pantai, di darmaga, dimana aku bisa melihat laut dan merasa angin bernyanyi, disitulah aku, disitulah ketenanganku. Salah satu siklus yang tak bisa diindahkan, tak bisa diabaikan, karena telah begitu terbiasa menikmatinya.

Minggu, 14 Juli 2013

Argghhhh !!!!

Menjadikannya lengkung-lengkung berapi, menjadi-jadi menjadi jari-jari yang menautkan hari-hari yang sepi. Berlari lagi, berlari-lari di lembah yang menghampa, yang menginginkan cahaya menghamba. Meninggalkan mentari yang tak mau ikut berpartisipasi, biar gelap yang menemani.

Arrggghh. Random ini menyeretku dalam lubang yang tak ku kenali. Berputar-putar dalam pijakan yang sama, berputar-putar dan ketika aku menengok ke bawah semua masih terlihat sama. Ketika aku menengok ke depan, ke belakang, ke samping kanan dan kiri, semuanya masih sama saja. Namun ketika putaran itu terhenti dan aku melangkahkan satu kakiku tanah memerah, awan merekah, datang terpisah-pisah, dunia ini ternyata telah berubah. Aku merasa bodoh, terpaku pada satu titik dimana aku diputar-putar dengan berbagai macam stigma dan paradigma hampa.

Kamis, 30 Mei 2013

Derik-derik kaki menari

16 April 2013 [15:52]
" Derik-derik kaki menari "
19 April 2013 [07:51]
" Bukannya tidak suka, hanya menghindari benci yang menjadi "
                       [07:54]
" Jendela dalam rangka. Tak peduli cahaya menerobosnya. Membiarkannya tanpa pernah mendispersinya, membiarkannya terefleksi. Sepi. "
01 Mei 2013 [15:36]
" Hidup suka-suka kamu. Suka-suka hidup kamu. "
                     [15:39]
" Bahkan aku tidak bisa melihat hujan "
                     [15:43]
" Derasnya saja terasa, atau ini hanya mati rasa? Atau memang harus merasakannya? Kosong di dada dengan nafas yang tertahan oleh lika-liku jalan. Hampa. Salah perhitungan "
                     [15:46]
" Ditempa, diterpa. Aku hanya bingung mau kemana. Hampa ini terus merejam, seakan menyeret ke jahanam. Merasa sendirian di ramainya ruang. Dan Tuhan menyengajakan, untuk diriku merasakan tamparan badai ini dalam balutan derasnya hujan "
                     [15:48]
" Aku benci jika kosong ini kembali. Ditinggal mati oleh rasa-rasa memiliki. Apa aku harus pergi lagi? Kenapa siklus ini harus selalu terjadi ? "
                     [15:51]
" Itu pilihanmu. Apa masih mau menerjang atau membiarkan ini semua reda dulu "
                     [15:52]
" Aku pikir itu kamu. Angin ini biar aku yang merasakannya sendiri. Biar aku sadar dan tak terus-terusan berlari. "
                     [15:53]
" Hujan ini berjalan tanpa henti, aku hanya menatap mereka yang terus-terusan berlari"
                     [15:54]
" Memberikanku harga mati? Atau menyengajakan untuk mati? Mati hati. Hati mati. "
                     [15:55]
" Tersakiti sendiri, lebih baik tak mendengarkan sedikitpun isu. Biar tak melulu jadi benalu "
                     [15:58]
" Menjerat diri sendiri dalam kehampaan. Lalu kenapa? Harus berteriak-teriak bangga?"
                      [15:59]
" Tidak akan sengaja membiarkannya berubah warna "
" Kapan reda? Kapan tak lagi terasa?"

Jumat, 24 Mei 2013

Kau boleh memilih.

kau boleh memilih apapun, kapanpun, dimanapun dan siapapun. Boleh, kau boleh memilih semuanya, kau boleh menjalani semuanya, asal waktumu ada saja. Kau boleh memilih kisah apa yang ingin kau jalani, kau boleh memilih detik mana yang ingin kau tandai, kau boleh memilih tempat mana yang ingin kau singgahi, kau boleh memilih sifat seperti apa yang ingin kau jalani. Kau boleh memilih, siapa yang bilang kalau kau tidak boleh memilih? Kau boleh memilih. Namun orang lain juga boleh memilih. Jadi ketika apa yang kamu pilih berbeda dengan yang orang lain pilih, maklum sajalah dan saling bertoleransi. Jika sama, kau bisa bekerjasama dan saling membantu kegiatan masing-masing.

Terus esensinya? gue juga ga ngerti ini nulis apa. Hanya kepikiran hal-hal seperti ini saja. Manusia bisa memilih segalanya, mereka punya hak. Namun terkadang ada pembatas-pembatas yang membuat mereka tidak bisa memilih hal-hal tersebut. Namun pula terkadang ada hal-hal yang ketika mereka memilihnya mereka harus berusaha jauh lebih keras untuk mendapatkannya. Karena pilihan itu bukan sekedar pilihan. Terkadang memang harus ada perjuangan, terkadang memang harus ada penyesalan, terkadang memang harus ada kesalahan dan perbaikan. Namun itulah pilihan, ketika kita telah memilih maka kita harus menjalaninya sampau tuntas, bukan malah menjadi semakin malas karena tahu kita harus berjuang lebih.