Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 02 Maret 2014

Salah Kiblat


Kau memandang kebelakang
jauh sudah langkahmu terpancang
ditahan bendungan berang-berang
banyak rasa yang kau rasa salah
banyak arah yang kau anggap salah arah
namun kau tetap melaju dalam topeng palsu
kering kerontang dalam hatimu

kiblat yang kau tinggikan
ternyata siksa mematikan
memberimu kehidupan untuk dimatikan
menggantungmu pada tiang pancang
atas segala hal yang dianggap lancang

Dan kau hanya menunggu waktumu dimatikan
pada kiblat yang salah kau arahkan
menanti nadimu dihentikan.

Jumat, 06 Desember 2013

Ingkar

ingkar melingkari, mengingkari
dan nafasnya mulai terjebak dalam aliensi
tercekat, terdebat oleh preferensi
gegar di kepala, gentar menjalar di dada
sejauh mana kau bisa menjadi sosok keras kepala
sekitar mulai bertanya
apakah lisanmu nyata?
apakah hanya hiasan sementara?
dalam pikir mereka ucapmu sudah tak bisa dipercaya
terlalu hampa, terlalu mengada-ada
kau yang melingkari ingkar
kau yang mengingkari sekitar
kau yang menjadikan percayanya memudar
kau yang menjadikan janji menjadi kelakar
humor yang layak dibakar,
ditinggal hingga meninggal.

Rabu, 23 Oktober 2013

datang lagi

memegang tuas ini lagi
untuk membuka lagi layar yang lama tak tersentuh
ini bukan inginku
tapi memori-memori ini mulai mencuat lagi
menjalar-jalar, meledak-ledak siap untuk membakar,
kaki mencoba menghindar
gentar
gentar
merasa gentar menghadapkan pandangan untuk menatapnya lagi
layar-layar itu, kertas-kertas itu menghakimiku lagi
dan aku hanya bisa meringkuk
mencoba merengkuh apapun yang bisa melindungiku
namun kosong yang kudapat
berharap dia terbunuh dalam khianat

Hah !!!

aku pikir aku akan mati lagi dalam euforia.
membebatku perlahan dalam tawa,
menunggu rana menangkap cahaya,
semakin cepat, nyawa semakin terangkat
cahaya menjalar membakar medium,
senyum mereka terkulum.
apa aku harus kembali mengumbar senyum?

Selasa, 11 Juni 2013

Kotak Persegi

lama aku pergi
dan sekarang aku kembali
menari-nari dalam kotak persegi
bersiap untuk dipasung lagi

lama aku pergi
untuk mengejar mimpi
tapi yang datang malah yang tak pasti
dan aku kembali lagi
dalam kotak persegi

kotak persegi
yang lama dibuat mati
karena di dalamnya kami tak pernah melihat pelangi
apalagi matahari di pagi hari

kotak persegi
yang hanya merekam ironi
serta sajak-sajak dan elegi
dan keinginan untuk segera pergi

kotak persegi
kungkungan untuk segera mati.

Entah

entah
ini serasa enyah
hanya membuat gerah

entah
atau ini waktu untuk berbenah
lari dari emosi yang tercurah
agar tak lagi lengah

entah
aku merasa lemah
tak lagi mampu meredam masalah
selalu merasa bersalah

entah
tak ada lagi yang terlihat gagah
tak ada lagi yang mampu berulah
tak ada lagi yang mengumbar langkah

mati perlahan
perlahan-lahan
dalam entah yang ditahan-tahan
dengan entah yang tak terucapkan

mati perlahan
tak terlihat dari haluan
tertinggal dalam buritan
dengan jeritan-jeritan
yang teredam oleh kegelapan
dengan teriakan-teriakan
yang terpendam dalam tanah dan papan

entah
rasa ini mati perlahan
perlahan-lahan.

Rabu, 29 Mei 2013

Gentar

dan kini aku semakin mudah gemetar
semakin mudah gentar
pada kata-kata mereka yang terlontar
pada selentingan yang membuat gegar

rasa takut ini membesar
dari kulit sampai ke dasar
sampai ke akar
menyeluruh dan menyebar
dan dengan mudah terbakar

Jumat, 24 Mei 2013

Mungkin ini waktuku dan waktumu

mungkin ini waktuku dan waktumu
untuk memberantas sendu yang meranggas
mendongkraknya dengan tuas
dengan dentingan gelas-gelas

tak ada lagi raut-raut memelas
tak ada lagi jiwa-jiwa pemalas
sekarang hanya ada seorang yang siap memegang kuas
melukiskan dunia luas
dalam lembar-lembar kanvas

seseorang yang terbebas
karena luka telah tertebas
dan tawa mengalir deras
tanpa takut lagi terlepas

mungkin ini waktuku dan waktumu
untuk memberantas sendu yang meranggas
menyambut dunia dengan langkah tegas.

Selasa, 16 April 2013

Aku buat ini untuk menjadikannya memori

Aku buat ini untuk menjadikannya memori. Tak akan terlepas dan tak akan terhempas. Melekat erat dalam rongga-rongga di kepala. Menggema dan menggema ketika aku mulai mengingatnya.Dan ketika menjadi-jadi, aku akan mulai meredamnya dengan menambal rongga di kanan-kiri. Aku hanya menambalnya, menutupnya, tanpa pernah membuangnya. Biar saja, ini hanya memori. Bukan hal yang perlu ditangisi atau dikasihani. Bukan hal yang membuatku tertahan dari kehidupan, bukan hal yang akan menyita hari-hariku. Bukan pula citra yang harus dipertahankan. Ini hanya memori yang bisa ditutup dan dibuka kapan saja. Ini hanya album, yang menyimpan cerita, kisah tawa, dan kumpulan jalan yang pernah ditempuh bersama makhluk Tuhan lainnya.

Ini hanya memori, yang akan tetap dipertahankan. Yang tak akan dihapuskan walaupun sempat terasa menyakitkan.

Senin, 15 April 2013

Sekarang aku yang menunggu.

Sekarang aku yang menunggu detik
Kapan mereka akan diistirahatkan
Kapan mereka akan direhatkan sejenak
Pada satu detik dimana duka ditiadakan
Resah, gundah, khawatir dan perasaan lelah dilenyapkan
Dan senyum-senyum merekah tanpa pernah merasa jengah
Tanpa pernah merasa harus mengalah oleh masalah
Sekarang aku yang menunggu hari terbagi
Menjadi kompartemen-kompartemen yang ditata hati
Sedih terpisah dengan bahagia
Luka terpisah dengan gembira
Dan aku bisa bebas memilihnya
Memilih satu hari yang diisi oleh kompartemen bahagia
Tanpa takut tersesat di bukit penuh duka dan derita
Tanpa pernah khawatir akan ditusuk luka kembali
Sekarang aku yang menunggu
Waktu untukku merasakan senyum yang merekah tulus
Dan senyum-senyum mereka yang tersenyum kepadaku, dengan tulus.
Karena aku dan mereka tau, kita mengejar bahagia dengan menjadikan baik sebagai patokan.

Minggu, 07 April 2013

Hanya satu otak yang berharap

Menjadikanmu sebuah patokan sepertinya adalah sebuah keputusan yang sangatlah salah. Aku pikir kau ada untuk menanti, hingga aku akhirnya pun menanti. Aku pikir kau ada untuk menunggu, makanya akupun menunggumu. Tapi di jalan yang sejajar ini kau malah berbelok dan berpindah tujuan. Membuatku kebingungan, membuatku merasa konyol karena mengikuti kecepatanmu. Sepertinya hanya ada satu otak yang berharap, dan hanya sendirian berharap. Dan satu otak lainnya pergi entah kemana.

Beranjak dari sisi kiri

Pintu telah ditutup
sumber inspirasi telah dibuat mati
tidak akan ada lagi harapan sebelah hati

mari jalani hidup ini
nikmati hari-hari
tanpa ada yang mengikat di sisi kiri
tanpa ada yang membuat berharap untuk menjadi berarti
dan selamat menertawakan diri sendiri
akan kebodohan dan kekonyolan yang dilakukan setiap hari.

Berhenti dan saatnya mengejar mimpi.
Aku sudah tidak peduli dan akan mulai beranjak dari sisi kiri.

Bogor, 7 April 2013

Senin, 11 Maret 2013

Karena waktu tak pernah mengijinkannya

Rautnya bertanya-tanya. Dunia ini nantinya akan jadi seperti apa? Akankah alien benar-benar menjamah kita? Atau akan ada ultraman yang akan menyelamatkan kita dari monster-monster yang habitatnya dijarah manusia?

Dia tak akan pernah tahu. Karena waktu tak mengijinkannya untuk tahu. Dunia baginya hanyalah hari ini dan hari yang lalu, yang tertata rapi dalam memorinya. Disimpannya dalam loker-loker pikirannya agar mudah untuk mencarinya. Agar dia tidak pernah terlupa, setiap jengkal dunia yang ditapakinya, setiap orang yang menyayanginya, setiap kebaikan yang dia terima, setiap tawa yang dia rasa. Kisah bahagia maupun derita tetap berharga untuknya. Karena itu yang dia punya di dunia. Karena dia takkan merasakannya untuk yang kedua kalinya.
Karena waktu tak pernah mengijinkannya.
Karena waktu tak mengijinkan detiknya melaju lebih lama.

Basa-basi basi

basa-basi bagai adiksi
untuk melangkah maju mengenal lebih banyak lagi
curahan kata-kata konstruktif ditata dengan apik
bagai lirik menyamarkan gerak gerik
menarik segala tendensi
dari serapah dan caci maki
konflik sebisa mungkin dihindari
menyamakan preferensi
walau terasa fiksi

sepi, terkadang menjadi basi
basa-basi basi.

Minggu, 10 Maret 2013

Jika dia bisa memilih

pada akhirnya dialah yang di tinggalkan
setelah ketidakmengertiannya disalahartikan
dia yang tidak bisa mengerti dunia
bukan dunia yang tidak bisa mengerti dia
dering-dering telepon yang diabaikannya
yang tanpa sadar membakarnya
tidak ada yang tahu
siapa sebenarnya dia di dalam  dirinya

detik itu membawa dia,
dan masa-masa kecilnya
tertawa seperti yang dia inginkan
dengan detik-detik yang berputar ke belakang
berbalik mundur.
membuatnya merinding
dengan lagu-lagu yang menyimpan elegi
petikan-petikan gitar tak terlengkapi

jika dia bisa memilih
jika dia bisa beralih
bukanlah elegi seperti ini yang dia pilih
ditikam sana sini
oleh orang yang bahkan tidak pernah berfikir
tidak seharusnya dia disini

Tak ada arti

menantang di depannya
dengan asap rokok di udara
memasuki paru-paru hampa
yang terusak menahan detak
dia menggambarkan sosok dengan titik-titik bertumbukan
titik-titik kosong,
palsu belaka.
kelontang berbunyi,
ini hanya gambar yang disobek-sobek lagi
tak ada arti
tak layak di memori
seperti air kopi yang di buang ke kali
tak terasa oleh jari-jari

Jumat, 01 Maret 2013

Perang obor, api dan gerimis

Terkumpul jiwa yang bertanya-tanya
Yang mengikatkan diri dalam transparasi
Dan tak pernah peduli pada preposisi
Karena kata dasar cukup untuk saling mengerti
Kita tertawa dengan imajinasi
Terbahak kala senja hari
Menunggu perang dimulai lagi

Obor dibakar
Emosi melebar
Meluap menghancurkan amarah yang beredar
Api menjulang tinggi
Hawa panas menyergap hati
Bara mengenai diri

Titik-titik berjatuhan
Meredam bara api yang memerah
Menjadikannya tenang.
Gerimis di malam itu
Walau tidak mematikan api
Tapi cukup mampu untuk menenangkannya
Membuat lemah amarah.
Mengurangi pertumpahan darah.

Sabtu, 16 Februari 2013

Membias.

Membiarkan memori ini terus berkunang. Membias dan menjadi tak jelas antara mimpi, pengharapan dan kenyataan. Menjadikannya menjadi sebuah fiksi yang dilegalisasi. Sebisa mungkin menjauhkan teriakan-teriakan untuk berhenti, menjadikannya samar, menyamarkan dengungnya.
Kuas-kuas yang catnya dibiarkan membekas, untuk menjadikannya kaku dan tak bisa diubah, pengaruh untuk tetap terus mendominasi.

Aku dan kalian

Dan kita akan kembali menyusuri langit. Biru ataupun saat senja aku tak peduli. Entah kapanpun itu aku akan tetap menunggu. Ketika keangkuhan tak lagi menjadi nomor satu dan kebersamaan menjadikan aku dan kalian selalu ingin menyatu. Tak ada dalang-dalang lain yang akan mengganggu jalan cerita kita. Lakon-lakon hanya kita yang menciptakannya, sesuka kita, sesuka imajinasi kita mau berlari kemana.
Kita tak akan takut dengan gelapnya jalan-jalan. Tak butuh obor di tangan, hanya kepercayaan untuk tetap bergandengan dan tetap percaya diantara kita. Aku yakin kita akan kembali ke awan yang sama untuk menyusuri langit yang sama.

Aku tidak tahu bagaimana caranya, kawan.

Hijau kembali lagi. Menawarkan senyum menawan yang tak lekang, hanya sementara. Seakan mengejekku perlahan. Aku yang selalu menghela napas di setiap kesempatan. Menyenangkankah kawan? belaian-belaian awan yang kau rasakan? dan teriknya sang surya dihamparan, tidakkah kau membiarkanku untuk melihatnya pula?
Langkah yang kau tinggalkan membekas di tanah merah, tak terhapus oleh amarah dan tak pernah berganti arah. Tak bisakah kakimu berhenti bergerak sejenak,menghentikan langkahmu untuk sekedar menengok ke belakang? Atau kau akan terus berjalan,meninggalkan bayang yang tak tahu caranya untuk tidak tetap mengikuti jejakmu?

aku tidak tahu bagaimana caranya kawan.