Jumat, 08 Juni 2012

Arka Kami


Dia datang lagi, manusia itu… manusia yang aku benci dan paling aku hindari selama ini. Manusia yang jika hanya melirik wajahnya saja sudah membuat kepalaku pening tak karuan. Manusia yang ketika aku mendengar suaranya entah itu sengaja maupun tak sengaja, langsung membuat aku menggigil ketakutan. Iya.. dia manusia itu. Manusia yang dengan tangan berototnya memukuli orang yang aku sayangi. Manusia  yang dengan ringan dan senang hati melayangkan pukulan dan sumpah serapahnya. Manusia yang akan aku benci seumur hidupku. Manusia yang mengambil nyawa adikku dengan kedua tangannya itu. Manusia biadab itu.
Saat itu umurku menginjak delapan tahun, dan adikku, adik laki-lakiku yang bernama Arka baru menikmati umurnya yang keenam dua hari sebelum kejadian itu. Awan-awan menggumpal menghitam seakan tak sabar menumpahkan butir-butir hujan yang selama ini dia simpan. Sepertinya awan-awan itu tahu sesuatu yang tidak menyenangkan akan terjadi, tapi aku dan Arka serta kedua orang tua kami sama sekali tidak tahu tentang takdir yang disiapkan oleh Tuhan. Takdir yang menuliskan bahwa anak berumur enam tahun yang akan memasuki  Sekolah Dasarnya yang pertama kali bulan depan ini akan meniggalkan kami semua, meninggalkan kami di dunia.
Aku, arka dan orang tua kami tidak tahu kalau orang itu datang ke rumah kami. Siang itu aku dan Arka sedang bermain bersama anak-anak lainnya di halaman depan rumah kami, karena halaman rumah kami paling luas dibandingkan halaman rumah tetangga-tetangga kami. Orang itu, manusia Bengal itu adalah pamanku. Aku ingat betul, dia memakai kemeja kotak-kotak berwarna coklat dengan celana jins warna biru. Saat dia datang ke rumah kami raut wajahnya sangat menyedihkan, sepertinya dia sedang banyak masalah. Aku dan Arka cuma menyapanya sebentar kemudian kembali bermain lagi dengan anak-anak tetangga rumah. Saat itu sepertinya aku ingin memeluk Arka erat-erat, aku tidak tahu kenapa sepertinya aku punya firasat kalau dia akan pergi jauh.
Hari mulai sore. Matahari mulai menyerahkan singgasananya pada sang Senja. Langitpun memerah, dan anak-anak yang bermain mulai pulang ke rumahnya masing-masing. Aku masuk duluan ke dalam rumah, sedang Arka membereskan mainannya yang berantakan di halaman rumah. Aku ke dapur mengambil minum, baru satu teguk air putih dingin memasuki kerongkonganku tiba-tiba terdengar jeritan Arka dari luar. Arka menjerit kencang sekali dan dia juga menangis. Segera aku letakkan gelas di meja dan berlari menuju halaman.
Di halaman, aku lihat ayahku sedang menarik tubuh pamanku sambil berteriak-teriak minta tolong, mencoba menjauhkan tubuh pamanku dari tubuh Arka. Dan ibuku mencoba menarik tangan kiri pamanku dari kerah baju Arka. Iya… Arka dipukuli oleh pamanku, aku tak tahu alasannya. Aku bergegas berlari, memaki-maki pamanku dan menarik tangan kanannya agar berhenti memukuli Arka. Saat itu kulihat muka Arka lebam-lebam, rahangnya sepertinya bergeser,  darah keluar dari bibir dan hidungnya, sepertinya dia dipukuli berkali-kali dengan tenaga paman yang begitu kuatnya.Ayah melepaskan pegangannya dan menggunakan kepalannya untuk memukul rahang pamanku. Tapi dia tidak terpengaruh. Kami mencoba menarik Arka dari tangannya, tapi tenaga kami bertiga tidak cukup melawannya. Dia mengibaskan kami,aku dan ibu terlempar, ayah masih mencoba melepaskan Arka
Tak lama kemudian para tetangga datang dan menarik pamanku itu agar melepaskan Arka. Berhasil dilepaskan, tapi saat itu juga kesadaran Arka sepertinya juga sudah lepas. Matanya tertutup dan suara lirihnya tak lagi terdengar. Arkaku… Arka kami….
Tanpa banyak berpikir lagi ayah dan ibuku membawa Arka ke rumah sakit. Tapi sayang semuanya sudah terlambat, Arka sudah dijemput oleh malaikat pencabut nyawa sebelum kami sampai di rumah sakit. Arka kami sudah meninggal, begitu kata dokter. Aku menangis sekencang-kencangnya,kupeluk jasadnya erat-erat ibu juga melakukan hal yang sama dan ayah mencium kening Arka yang mungkin untuk terakhir kalinya.
Pamanku? Kami bahkan tidak tahu dia dimana. Kesedihan kami akan kepergian Arka membuat kami tidak bisa berpikir dengan jernih. Yang ada dipikiran kami cuma Arka, Arka dan Arka. Satu jam kemudian, salah seorang tetangga kami memberikan kabar bahwa mereka telah melaporkan pamanku ke kantor polisi. Namun sayang ketika pamanku akan dibawa ke kantor polisi dia melarikan diri, tenaganya memang kuat apalagi hanya untuk melarikan diri.
Besok paginya jasad Arka dimakamkan. Rumah kami ramai oleh pelayat dan juga polisi yang melakukan penyidikan. Tahun demi tahun berlalu, pamanku tak kunjung ditemukan. Mungkin dia hilang dari peradaban. Benar-benar pintar sekali dia melarikan diri, pembunuh yang melarikan diri. Aku benar-benar membenci dia.
Sekarang aku dua puluh tahun, merantau di kota orang. Di kota metropolitan yang penuh hingar bingar ini. Dan saat ini dia, pembunuh itu ada didepanku. Tatapannya semakin bengis, lebih bengis dan lebih menyeramkan dari dua belas tahun yang lalu. Dan dia menatapku kemudian pergi begitu saja. Dan aku hanya terpaku oleh kebencian dan ketakutanku, tubuhku menjadi kaku dan aku tak bergerak sedikitpun. Tiba-tiba kakiku terasa lemah dan aku terjatuh ke tanah. Satu hal yang terus aku ulang-ulang dipikiranku saat ini adalahaku akan membunuh orang itu... Aku akan membunuh pembunuh sialan itu… Aku akan membunuh manusia biadab itu…

Tidak ada komentar: