Tampilkan postingan dengan label agak serius. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label agak serius. Tampilkan semua postingan

Jumat, 29 Agustus 2014

Traumatik.




Saya yakin setiap manusia pasti pernah mengalami kejadian, hal dan peristiwa traumatik yang membuatnya menjadi trauma akan suatu hal. Namun tidak semua orang menanggapinya dengan hal yang sama, ada yang dapat dengan cepat melupakannya ada pula yang mengingatnya begitu lama hingga ketakutan tersebut benar-benar membekas pada dirinya sendiri. Cepat atau tidaknya seseorang melupakan kejadian yang membuatnya trauma kadangkala memang tergantung akan kadar atau seberapa besar kejadian itu berdampak pada dirinya dan hidupnya. Hal-hal sepele mungkin bisa terlupakan.

Namun terkadang hal sepele juga bisa menjadi masalah yang begitu besar karena sebelumnya diawali dengan hal traumatik yang begitu menyakiti dirinya  dan hidupnya sehingga secara tidak langsung ketika terjadi kejadian yang sedikit mengingatkannya akan hal traumatik tersebut, dirinya secara langsung melakukan penolakan, pembencian yang begitu mendalam akan hal tersebut.

Hal traumatik tak hanya terjadi karena seseorang itu merasakannya secara langsung, namun terkadang bisa juga terjadi karena seseorang tersebut hanya melihat atau bahkan hanya mendengarnya tanpa merasakannya secara langsung. Hanya dengan melihat orang dibunuh, dibacok dan dianiaya kau bisa menjadi trauma, takut akan segala hal yang mengingatkanmu akan hal itu. Begitu juga mendengar rintihan orang yang tersiksa dan teraniaya, bisa jadi kau juga ikut merasakan apa yang mereka rasakan dan merasa trauma akan hal tersebut, entah karena scene  tersebut terlalu melekat dalam kepalamu atau karena sebuah penyesalan besar dimana kau tau hal tersebut tapi kau hanya bisa diam saja, hanya bisa melihat dan mendengarnya tanpa mampu berbuat apa-apa. 

Waktu untuk melupakan hal-hal tersebut juga kadangkala begitu lama, bisa jadi malah seumur hidup, tak bisa lupa. Terkadang manusia-manusia yang mengalami hal traumatik tersebut melakukan penolakan terhadap dirinya sendiri, dengan mengingkari dia pernah mengalaminya. Terus menerus mengatakan pada dirinya bahwa hal tersebut tidak pernah terjadi padanya dan hanya khayalannya semata. Namun penyangkalan dan pengingkarannya tersebut malah membuat pikirannya bias dari hidupnya, sedikit melenceng walaupun terlihat baik-baik saja.

Kejadian traumatik bisa juga menjadikan seorang individu memiliki diri yang dia ciptakan sendiri untuk melindungi dirinya yang asli yang begitu ketakutan. Bisa menciptakan topeng yang begitu sempurna hingga tak seorangpun menyangka dia pernah mengalaminya. Bisa menciptakan tembok yang begitu kokoh yang membatasi orang lain masuk ke dalam hidupnya, meski sepertinya dia terlihat begitu ramah pada setiap orang. Karena dia punya ketakutan yang dia tahan agar tidak menyebar, dia simpan dalam kotak dan dia kubur dalam-dalam agar tak seorangpun bisa menemukannya. Namun hal tersebut malah membuatnya semakin menderita, karena ketakutan itu masih tetap ada meskipun dia telah menyembunyikannya. Ketakutan itu siap meledak kapan saja, siap menghancurkannya dimana saja. Karena ketakutan itu masih ada.

Untuk itu ketakutan itu perlu dihancurkan sebelum dia menghancurkan kita, perlu kita buang bukan kita simpan ataupun kita sembunyikan. Diawali dengan penerimaan bahwa ketakutan itu ada, ada, dan ada. Dan kita harus menang darinya,

Namun itu tak semua tak semudah yang dikatakan,

Karena penerimaan juga menyakitkan.

Rabu, 11 Juni 2014

Tujuan Hidup?



 (Sumber gambar : Google)

Sudah lama tidak mengetikkan kata-kata basi, kalimat-kalimat elegi, maupun tragedi yang disulap menjadi ironi. Sudah lama pula tidak berjumpa dengan portal maya ini, menuliskan apa yang tidak seharusnya tertulis, menyusun kata yang tidak seharusnya tersusun menjadi sebuah kalimat. Terlalu lama hingga lupa dengan gaya bahasa sendiri, lupa dengan logat-logat yang terbiasa terlontar, dan berakhir dengan bertele-tele seperti ini.

Namun tetap ada satu hal yang masih mengganggu. Terngiang-ngiang menjadi sebuah pertanyaan yang sama yang dilontarkan bertubi-tubi dan tetap saja aku masih belum bisa menjawabnya, belum sanggup tepatnya. Masih sama, masih seperti beberapa tahun lalu setelah aku meninggalkan sekolah, pertanyaan ini belum juga terjawab.

“Apa tujuan hidupmu ?”

Berkali-kali aku mencoba bertanya pada diriku sendiri, tapi hingga sekarang aku belum bisa menjawabnya dengan pasti, belum sanggup menyatakannya dengan lantang, dengan keberanian untuk menetapkan tujuan hidupku sendiri. Mungkin aku masih terlalu lemah dan tidak percaya pada diriku sendiri.

Tujuan? Dulu aku berpikir tujuan hidupku adalah menikmati hidupku. Namun aku tak kunjung menikmati hidupku dan berakhir dengan bermalas-malasan dan menghambur-hamburkan uang untuk hal-hal yang tidak begitu penting. Kemudian aku berfikir, ini begitu tidak berguna, ini tidak ada artinya, dan malah menjadi beban orang tuaku. Dan aku tahu pasti ini bukan tujuan hidup, tapi malah merepotkan hidup orang lain, menjadi beban. 

Lalu aku berfikir, aku ingin menjadi orang yang lebih berguna dan aku mencoba menjadi relawan, menjadi bagian dari sebuah organisasi. Tapi apa? Bahkan hampir setahun aku tidak merasakan aku ini adalah relawan, karena kau tau apa, semua kegiatan yang aku ikuti hanya  bentuk dari program kerja yang harus segera usai dan harus segera dikerjakan laporan pertanggungjawabannya, membuat bosan dan ingin segera hengkang karena serasa terkekang.

Kemudian sekarang aku mulai berteriak-teriak pada diriku sendiri.

“TUJUAN HIDUPMU ADALAH KELUARGAMU DAN KELUARGA BESARMU. MEREKA MENARUH HARAPAN BESAR PADAMU. JANGAN KECEWAKAN MEREKA. KAMU, KAMU YANG HARUS BISA DIANDALKAN, KAMU HARUS BISA MENJADI TEMPAT MEREKA BERGANTUNG KETIKA MEREKA KESUSAHAN, KAMU HARUS BISA MEMBANTU MEREKA”

“KAMU HARUS BISA MENJADI ORANG, ORANG YANG BISA DIANDALKAN”

Berkali aku teriakkan itu, terngiang-ngiang perkataan mama, bapak, budhe dan bulekku.

“Awakmu kudu dadi wong sukses ndik, ben iso ngewangi dulur-dulurmu seng kesusahan, ngewangi budhe lan bulekmu sing wes mulai berumur iki. Dadi bocah sing iso dibanggaake mama karo bapakmu iki” 

Inikah tujuan hidupku? Bagaimana caraku mengeksekusinya? Sementara diriku yang sekarang ini tidak mempunyai minat pada apapun, tidak ingin berharap apapun dan tidak ingin melakukan apapun.

Inikah? Aku masih takut.

Selasa, 10 Juni 2014

Kebutuhan.



(Sumber gambar : Google)

Tiba-tiba muncul hal seperti ini dikepalaku

"Jarum-jarum menusuknya perlahan, tapi dia hanya terdiam. Pasrah membiarkan kulitnya ternoda oleh jejak-jejak tajam yang menyusupkan penawar racun ke dalam tubuhnya. Dia tidak bisa berkata apa-apa. Bertahan akan rutinitas yang akan menjaga hidupnya lebih lama itu. Bukan sesuatu yang adiktif yang membuatnya ketagihan, hanya sesuatu yang dia pertahankan karena hanya itu cara untuk mempertahankan detiknya berdetik lebih lama."

Terkadang orang-orang yang tidak merasakan jarum-jarum pengobatan pun seringkali terhujam dalam kebutuhannya akan sesuatu. Kebutuhan yang akan tetap dia lakukan walaupun itu menyiksa dirinya.

Kebutuhan akan sesuatu yang membuat senyumnya terkulum lebih lama, kebutuhan akan sesuatu yang membuat otaknya menjadi lebih jernih, kebutuhan akan kebersamaan yang bisa menambah detiknya hingga waktu yang tak tentu.

Kebutuhan yang tidak sepenuhnya dia tahu dia begitu membutuhkannya.

Kebutuhan yang menjadi rutinitas yang terpatri oleh intensitas.

Jumat, 10 Januari 2014

Untitled.

Ada yang kosong, memelas meminta tahta akan sesuatu tak nyata. Bergumul dalam kepala sang raja, apa ini sesuatu yang hendaknya dihujat untuk mati, dicerca agar tak bernyawa. Ataukah ini hanya sekelebat derma yang seakan-akan disucikan padahal hanya janji buta yang maya, tak ada bentuknya.

Lalu disana, banyak penduduk yang seakan tak bermata. Memandang semuanya dengan telinga, mendengar semuanya dengan rasa. Lalu hanya bisa menghujat dan mengiba dengan mulutnya. Seakan mereka sudah mati fikirnya, lenyap akalnya, hanya bertindak berdasar apa yang mereka suka.

Di sisi lain ada manusia-manusia lain yang tak berpedoman pada apapun, tak mempercayai tahta sang raja, hujatan penduduk, bahkan tidak peduli dengan langit yang bukan langitnya, bumi yang bukan buminya dan tanah yang bukan tanahnya. Mereka punya akal, terlalu pintar untuk  dikatakan tak berakal. Mereka hanya tak peduli, tak mau mengerti.

Rabu, 18 Desember 2013

Dunia memang begitu lucu

Terkadang hidup begitu lucu. Dulu ketika kau memilih menutup matamu, semua seakan baik-baik saja. Dia, mereka dan semua orang yang ada didepanmu adalah sosok-sosok yang mengagumkan, membuatmu terpana dengan segala kisah mereka, segala polah mereka, seakan mereka begitu sempurna.

Dulu ketika kau menutup matamu, dunia seakan baik-baik saja. Tak ada yang perlu kau khawatirkan kecuali kisahmu sendiri dan bagaimana kau makan esok hari. Dulu, ketika kau menutup matamu dan acuh dengan dunia di sekitarmu.

Namun "dulu" telah dihujam kata "melaju". Waktu melaju. Dan kisah tetap berlanjut.
Dan aku katakan lagi, dunia begitu lucu.

Ketika mata mulai terbuka. Semua kisah semakin terlihat nyata. Namun sekarang semuanya tidak begitu terlihat sempurna. Ada retak di kanan kiri. Bahkan ada kawat-kawat yang mencuat dari pondasi yang mereka bilang dibangun lebih dari seabad yang lalu saking lamanya.

Dan tokoh juga silih berganti. Dalam cerita yang sama dengan topik yang sama. Mungkin kau dulunya adalah tokoh utama, namun waktu berkata lain dan tanpa kau mau kau menyingkir karena Sang Sutradara berkata lain.

Ada pula dua cerita yang berbeda, dengan tema yang sama dan aku mendengar dari sisi yang berbeda. Dan ketika aku hubungkan keduanya, aku rasa intinya sama. Dunia memang begitu lucu.

Banyak hal yang menyakiti, banyak mulut yang terlalu berambisi, banyak tingkah yang tidak terprediksi. Karena inilah dunia, inilah dunia yang begitu lucu. Saking lucunya hingga akhirnya kau yang dulu menertawakannya sekarang dunialah yang menertawakanmu. Karena dunia begitu lucu dan kamu hanya cukup bersyukur untuk dunia yang begitu lucu ini.

Aku mencium bau perpecahan.

Aku mencium bau perpecahan. Disaat setiap orang mulai lelah dan merasa terbunuh oleh rutinitas. Disaat beban setinggi kepala terus menumpuk hingga tak lagi mampu ditahan. Dan ketika penat merajai ubun-ubun, membuat kepala ingin meledak dan semua orang tidak bisa menahannya, aku mulai mencium bau perpecahan.

Aku mencium bau perpecahan. Ketika kawan menjadi lawan, bahkan untuk sesuatu yang tidak benar-benar diharapkan. Ketika ucapan adalah sebuah dusta yang dipertahankan, dibenarkan dengan segala pembenaran. Ketika ingkar terungkapkan dan ikatan menjadi berantakan. Aku semakin mencium bau perpecahan.

Rutinitas, benci, ingkar, dusta, dan pisau yang menghujam dari belakang, aku mohon kalian bisa memaafkannya.

Agar aku dan kalian tak lagi mencium bau perpecahan diantara ikatan yang sudah susah payah kita pintal bersama.

Minggu, 15 Desember 2013

Kau, cobalah belajar untuk mendengar.

Kau, cobalah belajar untuk mendengar. Sebagai orang baru tak pantas untukmu memaksakan kehendakmu sendiri. Kau terlalu idealis atau apa juga aku tak peduli. Tapi kalau kau memang benar-benar idealis, aku kecewa denganmu. Si idealis tidak memaksakan kehendaknya seperti itu, si idealis harusnya mempelajari lingkungannya, bukan untuk memaksa, tapi untuk memahami dan membuat mereka mengerti.

Mungkin caramu tak sama dengan cara kami, tapi itu bukan berarti menjadi alasan untukmu untuk mengubah cara kami menjadi cara yang kau mau. Kau yang orang baru, tetapi malah kenapa kau yang mencoba memaksakan kehendakmu. Harusnya kaulah yang harus membaur dengan kami, mempelajari lingkungan kami, membuatmu mengerti kenapa kami seperti ini, membuatmu diterima dengan baik-baik disini, bukan malah mencari musuh dengan sikap seolah kau ini yang paling benar.

Kau, kau sebaiknya belajar untuk mendengar agar kau didengarkan. Kau sebaiknya belajar menghargai agar kau dihargai. Kau sebaiknya belajar untuk mencoba mengerti untuk bisa dimengerti.
Semakin kau paksa, orang akan semakin malas denganmu.

Berjalanlah kawan.

Tidak, tidak ada yang remeh. Berjalanlah. Langkahkan kakimu kemanapun kau mau. Kadang kau memang harus berjalan sendiri. Kadang kakimu sendirilah yang membawamu ke tempat yang menentramkan jiwamu, bukan karena mereka atau siapapun.

Kau tidak harus memaksakan tawa, tidak harus merubah warnamu seperti warna mereka. Kau hanya perlu menjadi kau, dirimu sendiri.

Kau tidak perlu terus-terusan mencecar untuk sesuatu yang tidak kau suka, terkadang kau hanya perlu menerima. Karena terkadang bertoleransi untuk mendengarkan lagu yang tidak kau suka tidak melulu buruk, kau bahkan bisa mencoba menyukainya dengan caramu sendiri.

Kadangkala kau memang butuh seseorang untuk membuatmu ada, tapi bahkan tanpa mereka kau masih tetap ada. Kau ada karena dirimu menganggap dirimu ada. Itu saja cukup dan kau bebas berlari semaumu di tamanmu sendiri. Menggumpalkan awan yang akan menghujani tanahmu sendiri, menumbuhkan bungamu sendiri, pohonmu sendiri yang bisa kau tata sesuka hati dengan lanskap yang kau rencanakan sendiri.

Lalu aku akan bergabung bersamamu, aku dengan caraku sendiri dan kau dengan caramu sendiri.
Mungkin memang kita dulunya adalah jiwa-jiwa yang mati. Tapi bukan berarti kita tidak bisa hidup lagi. Dan semua kenangan buruk akan masa lalu, aku harap kita mampu melupakannya, menguburnya. Menjadikannya pupuk untuk menumbuhkan hal-hal baru yang lebih menyenangkan, memberikan kita esensi bahwa hidup akan lebih indah lagi dengan pelajaran yang kita dapat darinya, dari keburukannya.

Dan bukan berarti kita lupa untuk berkaca, menjadi tahu diri untuk apa yang telah mereka berikan kepada kita. Bahwa meskipun kita sendiri dengan cara kita sendiri, ada orang-orang disana yang menerima cara kita, dengan sengaja ataupun tak sengaja. Menerima kita apa adanya, seperti kita menerima mereka apa adanya.

Selasa, 03 September 2013

Bagaimana Rasanya

Bagaimana rasanya kamu dikukuhkan dengan segala tendensi, dengan segala preferensi yang membenarkan satu hal yang sering kamu sebut dengan ilusi. Sedangkan jiwamu perlahan-lahan mati, dibunuh oleh segala inginmu akan dunia. Dan kamu dengan bodohnya masih terus tertawa, mencoba mengisi apa yang melompong, mencoba mengisi kematian jiwamu dengan humor yang tidak kamu mengerti. Padahal aku tahu, kamu ketakutan setengah mati.

Kamu menunda semuanya, bahkan kau juga menunda waktumu untuk menghidupkannya lagi. Kamu terlalu kiri, selalu mengagungkan otak kiri. Mendewakan rutinitas yang sama setiap hari. Hanya untuk pengakuan sehari kamu berupaya setengah mati, tapi tidak ada jejak yang kamu tinggalkan sebagai sebuah jejak memori, pudar begitu saja karena terlalu geli untuk memikirkannya kembali.

Sabtu, 24 Agustus 2013

Surat untukmu dari dirimu.

Terima kasih untuk waktu yang telah dibuang-buang selama ini ndik. Memang banyak yang harus disesali tapi untuk menghabiskan seluruh waktumu hanya untuk menyesali apa yang telah kamu lakukan, rasanya itu benar-benar membuang waktumu jauh lebih banyak. Kau melakukan suatu hal dan kau salah dan kau menyesalinya itu wajar. Namun ketika kau berdiam diri tidak melakukan apapun, lantas kau berharap sesuatu yang baik akan datang kepadamu dan kau terus-terusan menunggu hingga apa yang kau harapkan itu tak kunjung datang, lalu kau mulai marah pada dirimu karena tidak melakukan apapun lantas kau menyesalinya, aku pikir kau aneh.

Kau bisa berkehendak, kau bisa berharap apapun, namun ketika ada orang lain menekanmu kau begitu ketakutan. Takut orang itu tak akan mempercayaimu lagi, takut orang itu akan pergi dan meninggalkanmu, takut orang itu tak akan menemuimu lagi, dan kau akhirnya mengikuti apa yang orang lain inginkan hanya karena kau takut sendirian. Yah, kau takut sendirian.

Kau bisa berucap, tertawa kencang, berteriak lantang, namun ketika pendapatmu tidak sepaham dengan mereka kau malah terdiam. Dimana keberanianmu? Lenyap kemana? Kau punya hak untuk bersuara, bukan hanya memendamnya sendirian. Kau begitu takut ditertawakan, takut dianggap remeh, hingga akhirnya kau hanya bisa bilang iya, dan tidak menolak apapun yang mereka katakan, hanya karena ketakutan kau akan dianggap rendah. Kau hanya ketakutan.

Lantas apa? Aku tidak ingin mengumbar apa-apa, aku hanya ingin memperingatkanmu. Kau juga manusia yang layak untuk menjadi berani, tidak ada yang menghalangimu bahkan dirimu sendiri. Ketakutanmu selama ini kau sendirilah yang menciptakannya. Bahkan ketika kau berfikir kau akan menjadi kau yang lebih berani, aku yakin pasti semesta mendukungmu, begitupun aku, dirimu ini.

Aku tidak akan memaksamu, karena akupun merasakan ketakutan yang sama, namun aku akan menjadi berani untuk diriku sendiri, perlahan, mengubahmu menjadi seseorang yang tak takut dicap sebagai orang mati ataupun orang yang tak tahu diri. Karena berdiri itu hak setiap orang, berlari juga hak setiap orang. Kau bisa berusaha. Siapa bilang orang itu tercipta seperti adanya sekarang. Semua orang berusaha, begitupun kau, begitupun aku.

Selamat berusaha lebih keras, untuk hidup yang lebih berani, untuk hidup yang lebih tahu diri dan memahami serta lebih mengerti tentang hakikat hidup atau mati, sendiri atau bersama, dan bersosialisasi lebih baik serta lebih bisa mengontrol diri sendiri dan lebih bisa menempatkan diri.

Salam,
Otak Kecilmu.

Kamis, 25 Juli 2013

Dia tak tahu dia berdegup untuk siapa.

Dia tak tahu dia berdegup untuk siapa. Setiap kali memandang awan matanya mulai  berair, dia mulai menangis. Ada kerinduan disana, dimana disetiap detik yang dimilikinya terasa kosong. Hampa, tanpa kawan tanpa lawan. Tidak ada yang membuatnya tertarik dengan dunia, tapi dia ingin tetap merasa dunia. Bagaimana dia merasakan jenaka, merasa tawa yang nyata, bukan palsu yang dipaksakan. Degup yang dimilikinya seperti hanya hiasan belaka. Ada dan membuatnya bernyawa, tapi tidak membuatnya merasakan hidupnya, tidak membuatnya merasakan hal yang nyata.

Dia tak tahu dia berdegup untuk siapa.

Senin, 13 Mei 2013

Hey Teman Apa Kabarmu Disana?


Berapa tahun?
Aku pun tak ingat.
Aku menemukan ini ketika kubongkar-bongkar foto-foto jaman dulu.
Tulisanmu kawan, sampai sekarang aku masih menjadi salah satu penggemarmu. Masih, dan tulisan-tulisanmu dulu aku masih menantikannya sampai sekarang.

Aku masih jadi penggemarmu kawan :)
Semoga kau tidak lupa, kita masih sahabat walau kata tidak lagi saling terlontar.

Hari ini dan empat tahun lalu Perang Obor.

Perang obor 4 tahun yang lalu.
Tidak ada yang ingatkah? Tidak tahu kenapa ini melekat erat, kenangan kita semua.
Menanti waktu dimulainya perang obor dengan menghabiskan waktu di pantai sampai adzan maghrib berkumandang. Menanti satu per satu orang dari kita datang, dengan obrolan yang tidak terlalu penting, membahas apapun yang kita lihat, membahas segala yang ada di hari-hari kita, di sekolah dan di minggu-minggu yang sengaja dilewati bersama. Dari pantai ke pantai, kebun kopi, kebun coklat, kebun karet, haha.. selalu banyak hal aneh yang terjadi ketika kita bersama.

Walau diguyur gerimis tak menghalangi kita untuk tetap menonton perang obor yang memang dinanti-nanti. Ini pertama kalinya. Bara-bara tetap menyala. Api dipasang dalam setiap obor raksasa. Suara-suara bergema. Gerimis tak menghalangi tradisi ini untuk tetap dilaksanakan malam itu. Kita berdesak-desakkan diantara orang-orang lain yang ingin menonton, saling menggandeng tangan teman satu sama lain agar tidak saling berpencar. Kita diantara orang-orang yang penasaran, ingin tahu seseru apa tradisi ini akan berlangsung. Menyesak kanan kiri untuk mendapatkan tempat yang lebih depan, untuk melihatnya lebih jelas. Dan ketika perang dimulai. Aku tak tahu, sensasi apa ini. Tak tahu mengapa apa yang ada di depan mataku ini membuatku benar-benar terperangah, sekumpulan orang membawa obor raksasa yang terbuat dari jerami dan saling memukulkannya satu sama lain. Benar-benar menegangkan, tidak terlihar rasa sakit dari orang-orang yang terkena pukulan obor. Semuanya membara, semangat membara. Tanpa sadar kami mulai berteriak-teriak untuk menyemangati dan memperingati orang yang akan dipukul. Kita terbawa suasana menegangkan ini, semua yang menonton terbawa suasana.

Perang obor berakhir, dan kita putuskan untuk menginap di tempat salah seorang dari kita. Menonton wayang? Jelas itu sebuah tawaran yang tak bisa dilewatkan, sejak kecil aku tergila dengan ketoprak dan wayang walau tidak selalu mengerti apa yang sedang diceritakan. Melihat wayang kulit beraksi dengan suara dalang dan sinden-sinden serta hantaman gamelan yang saling selaras dengan arahan dalang benar-benar menyenangkan. Dan malam itu, diputuskan, kita ke balai desa setelah perang obor usai. Melewati kebun-kebun warga yang gelap, mencari jalan pintas untuk bisa lebih cepat sampai di balai desa. Hmm, sederhana, pertemanan ini begitu sederhana. Kita sampai, kita menatap kanan kiri, banyak warga di setiap sisi. Tak ada kursi yang tersisa. Kita menonton sambil berdiri, wayang beraksi, dalang mengayun wayang kulit ke kanan kiri, menjalankan cerita yang tak aku mengerti, sinden bernyanyi dan bunyi gamelan tak pernah mati. Menyenangkan, melihat wayang saling bertabrakan melakukan adegan perang. Suara dalang yang berganti-ganti, cerita yang mulai kami mengerti. Wayang usai dilanjut dengan ketoprak, balai desa mulai sepi karena hari semakin larut dalam gelap, dan kami akhirnya mendapat kursi. Ketoprak ini lebih ringan, kami tertawa-tawa sepanjang malam dengan lawakan-lawakan yang disajikan. Haha, tak terasa hampir tengah malam dan diputuskan untuk pulang ke rumah salah satu dari kita. Tidur seperti ikan pepes, dengan  sebelumnya menyantap gemblong ketan. Pagi datang, pantai lagi dan kembali ke rumah masing-masing, dan sendalku tak lagi menjadi sepasang.

Sudah empat tahun, dan hari ini perayaan Perang Obor yang telah dikoar-koarkan di media sosial berbulan-bulan yang lalu akan dilaksanakan lagi. Perang Obor hari ini, aku pun sebenarnya ingin melihatnya lagi bersama kalian. Dengan rangkaian gerimis, wayang, dan ketoprak orang yang tak bisa terlupakan.

Salam sayang dari temanmu ini yang sedang merindukan kalian. Semoga apa yang kalian lakukan tidak sia-sia dan kita bisa menjadi seseorang yang bisa membanggakan kedua orang tua kita. Semoga kita menjadi seseorang yang tidak akan pernah lupa dengan masa lalu yang menempa kita, dan tetap melihat masa depan sebagai sebuah kesempatan yang tak boleh disia-siakan.

Dan kaki-kaki ini boleh jadi menjadi saksi, bahwa kita nanti akan menjadi yang lebih baik lagi.


Kamis, 09 Mei 2013

Tap tap tap

Tidak ada seorangpun yang ingin tahu siapa sebenarnya saya. Apa saya ini teroris, penjahat atau koruptor, tak ada seorangpun yang ingin tahu. Karena memang sepertinya tidak ada penting-pentingnya bagi mereka dan tidak ada manfaatnya sama sekali.
Masa lalu apa lagi? bertahun saya menguburnya dalam-dalam. Awas saja kalau ada yang mengangkatnya ke permukaan. Tak akan sudi saya menatap wajah orang itu, mendengar suaranya apa lagi.
Haha, dunia memang aneh. Bisa mengubah manusia tanpa kata menjadi seorang pembual, bisa merubah penganiaya menjadi seseorang super alim yang bahkan saya pun tidak bisa mendekatinya sama sekali. Kau yang jahat tidak selamanya jahat, dan kau yang baikpun tidak akan selamanya baik.
Pintu itu, langkah kaki, es teh manis, dan saya si muka kotak. Rangkaian yang bahkan saya sendiri tidak tahu, mengapa Allah merencanakannya seperti itu. Satu tahun pertama, tak bisa percaya pada siapapun, di tahun kedua tetap sama, tahun ketiga sampai tahun terakhir semakin tidak percaya bahwa makhluk yang bernama teman itu ada.
Dulunya pun saya ini manusia penuh harapan. Menjadi lebih baik, menjadi lebih pintar, menjadi lebih untuk kedua orang tua saya. Tapi sekarang? Karena sebuah sesi yang melepas jangkar saya dan melepas kapal saya, membuat saya terombang-ambing. Meragukan dunia, meragukan siapapun yang akan dipercaya.

Selasa, 16 April 2013

Aku buat ini untuk menjadikannya memori

Aku buat ini untuk menjadikannya memori. Tak akan terlepas dan tak akan terhempas. Melekat erat dalam rongga-rongga di kepala. Menggema dan menggema ketika aku mulai mengingatnya.Dan ketika menjadi-jadi, aku akan mulai meredamnya dengan menambal rongga di kanan-kiri. Aku hanya menambalnya, menutupnya, tanpa pernah membuangnya. Biar saja, ini hanya memori. Bukan hal yang perlu ditangisi atau dikasihani. Bukan hal yang membuatku tertahan dari kehidupan, bukan hal yang akan menyita hari-hariku. Bukan pula citra yang harus dipertahankan. Ini hanya memori yang bisa ditutup dan dibuka kapan saja. Ini hanya album, yang menyimpan cerita, kisah tawa, dan kumpulan jalan yang pernah ditempuh bersama makhluk Tuhan lainnya.

Ini hanya memori, yang akan tetap dipertahankan. Yang tak akan dihapuskan walaupun sempat terasa menyakitkan.

Senin, 11 Maret 2013

Karena waktu tak pernah mengijinkannya

Rautnya bertanya-tanya. Dunia ini nantinya akan jadi seperti apa? Akankah alien benar-benar menjamah kita? Atau akan ada ultraman yang akan menyelamatkan kita dari monster-monster yang habitatnya dijarah manusia?

Dia tak akan pernah tahu. Karena waktu tak mengijinkannya untuk tahu. Dunia baginya hanyalah hari ini dan hari yang lalu, yang tertata rapi dalam memorinya. Disimpannya dalam loker-loker pikirannya agar mudah untuk mencarinya. Agar dia tidak pernah terlupa, setiap jengkal dunia yang ditapakinya, setiap orang yang menyayanginya, setiap kebaikan yang dia terima, setiap tawa yang dia rasa. Kisah bahagia maupun derita tetap berharga untuknya. Karena itu yang dia punya di dunia. Karena dia takkan merasakannya untuk yang kedua kalinya.
Karena waktu tak pernah mengijinkannya.
Karena waktu tak mengijinkan detiknya melaju lebih lama.

Minggu, 10 Maret 2013

Tak ada arti

menantang di depannya
dengan asap rokok di udara
memasuki paru-paru hampa
yang terusak menahan detak
dia menggambarkan sosok dengan titik-titik bertumbukan
titik-titik kosong,
palsu belaka.
kelontang berbunyi,
ini hanya gambar yang disobek-sobek lagi
tak ada arti
tak layak di memori
seperti air kopi yang di buang ke kali
tak terasa oleh jari-jari

Jumat, 01 Maret 2013

Perang obor, api dan gerimis

Terkumpul jiwa yang bertanya-tanya
Yang mengikatkan diri dalam transparasi
Dan tak pernah peduli pada preposisi
Karena kata dasar cukup untuk saling mengerti
Kita tertawa dengan imajinasi
Terbahak kala senja hari
Menunggu perang dimulai lagi

Obor dibakar
Emosi melebar
Meluap menghancurkan amarah yang beredar
Api menjulang tinggi
Hawa panas menyergap hati
Bara mengenai diri

Titik-titik berjatuhan
Meredam bara api yang memerah
Menjadikannya tenang.
Gerimis di malam itu
Walau tidak mematikan api
Tapi cukup mampu untuk menenangkannya
Membuat lemah amarah.
Mengurangi pertumpahan darah.

Sabtu, 16 Februari 2013

Aku tidak tahu bagaimana caranya, kawan.

Hijau kembali lagi. Menawarkan senyum menawan yang tak lekang, hanya sementara. Seakan mengejekku perlahan. Aku yang selalu menghela napas di setiap kesempatan. Menyenangkankah kawan? belaian-belaian awan yang kau rasakan? dan teriknya sang surya dihamparan, tidakkah kau membiarkanku untuk melihatnya pula?
Langkah yang kau tinggalkan membekas di tanah merah, tak terhapus oleh amarah dan tak pernah berganti arah. Tak bisakah kakimu berhenti bergerak sejenak,menghentikan langkahmu untuk sekedar menengok ke belakang? Atau kau akan terus berjalan,meninggalkan bayang yang tak tahu caranya untuk tidak tetap mengikuti jejakmu?

aku tidak tahu bagaimana caranya kawan.

Minggu, 27 Januari 2013

Oh Tuhan.. Ternyata dulu gue juga alay

Selama ini gue paling sebel kalo ngeliat bocah-bocah jaman sekarang pake bahasa yang alay-alay begitu. Singkatan-singkatan sok imut dan dilebih-lebihkan.
Tapi ketika gue buka blog gue jaman jahiliah dulu (disensor nama blognya), gue kok jadi jijik sama tulisan gue itu yah. Sumpah alay banget dan kesannya selalu mengasihani diri sendiri. Gak nyangka kalo gue juga dulunya remaja labil seperti itu. :(
Haha.. manusia berproses lah. Gue yang dulu alay sekarang udah gak alay lagi :P
Jaman dulu ya jaman dulu. Sekarang ya sekarang. Jaman dulu dan sekarang bakalan jadi modal buat masa depan #apasih
Yang pasti sekarang gue inget dan gue sadar. Dulu gue pikir gue ga bisa bangkit, dulu gue pikir gue bakalan terus-terusan terpuruk. Tapi sekarang ketika gue ngaca *ebuset dah ngaca*, gue rasa gue bisa bangkit. Bukan gue rasa lagi, tapi gue emang udah bangkit dari masa-masa itu *sok serius*
Apa yang dulu gue pikir gue ga bakal bisa ngelakuin hal itu, satu persatu Allah mulai menunjukkan jalan.
Ketakutan-ketakutan tak beralasan gue dulu, tidak terbukti sama sekali. Dunia ya seperti aku melihatnya, Terkadang begitu negatif terkadang begitu positif. Terkadang membuat malas, terkadang bersemangat setengah mati.
Yang pasti satu hal yang harus terus diingat. Allah akan selalu memberikan jalan bagi hamba-hambanya yang meminta kepada-Nya.
:)