Tampilkan postingan dengan label cuplikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cuplikan. Tampilkan semua postingan

Senin, 11 Maret 2013

Tidak ada

"Tidak ada seorangpun di dunia ini yang dengan sengaja mengundang derita dan melarang bahagia untuk datang menghampirinya. Tidak ada. Aku harap kau pun tidak.

Karena waktu tak pernah mengijinkannya

Rautnya bertanya-tanya. Dunia ini nantinya akan jadi seperti apa? Akankah alien benar-benar menjamah kita? Atau akan ada ultraman yang akan menyelamatkan kita dari monster-monster yang habitatnya dijarah manusia?

Dia tak akan pernah tahu. Karena waktu tak mengijinkannya untuk tahu. Dunia baginya hanyalah hari ini dan hari yang lalu, yang tertata rapi dalam memorinya. Disimpannya dalam loker-loker pikirannya agar mudah untuk mencarinya. Agar dia tidak pernah terlupa, setiap jengkal dunia yang ditapakinya, setiap orang yang menyayanginya, setiap kebaikan yang dia terima, setiap tawa yang dia rasa. Kisah bahagia maupun derita tetap berharga untuknya. Karena itu yang dia punya di dunia. Karena dia takkan merasakannya untuk yang kedua kalinya.
Karena waktu tak pernah mengijinkannya.
Karena waktu tak mengijinkan detiknya melaju lebih lama.

Rabu, 26 Desember 2012

Memori tentangmu

Aku menyimpan segala memori tentangmu disini. Disisi lain hati ini. Tak ada seorangpun yang tahu. Tapi aku tahu pasti karena aku yang menyembunyikannya dengan rapi. Membungkusnya tanpa celah. Terkadang akupun gerah, ingin menempatkannya di sisi terdepan hatiku. Meneriakkannya keras-keras. Mengingatnya tanpa malu-malu lagi. Tapi tidak kulakukan karena aku tahu itu terlalu berbahaya. Kau lebih baik hidup di sini saja, di sisi kiri hatiku. Mendekam dalam memori yang tak terjamah seorangpun lagi.

(Awan untuk Langit)

Kau adalah antagonis yang aku benci



Kau adalah antagonis yang aku benci setengah mati. Kau adalah manusia sadis yang aku hindari selama ini. Yang tanpa sadar menjejalkan teorema-teorema kehidupanmu dalam kepalaku. Memaksaku untuk menerima segala hipotesismu yang aku tahu itu belum tentu benar. Tapi tetap saja, akhirnya akulah yang mengikutimu, akulah yang mengikuti kehendakmu, akulah yang terjatuh dalam genggamanmu. Kau, yang bahkan kehadiranmu tak dapat kurasakan seutuhnya. Kau, yang datang dan pergi semaumu, yang berkata-kata sesukamu. 

-Awan untuk Langit-