Tampilkan postingan dengan label #ngasal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #ngasal. Tampilkan semua postingan

Jumat, 06 Februari 2015

?

Aku selalu bertanya, bagaimana caranya menjadi manusia?
Aku manusia juga. Tapi aku belum bisa mengerti apa hakikatnya menjadi manusia, apa definisi kita?
Terkadang manusia hidup untuk menjadi manusia yang manusia lain inginkan. Terkadang yang lain manusia hidup hanya untuk memberi luka pada manusia lainnya.
Meski ada juga manusia yang begitu baik pada manusia lainnya.

Rabu, 11 Juni 2014

Asal aja - Kepala gue nyut-nyutan !!!!

Ini gue gatau kenapa kepala gue daritadi nyut-nyutan. Mungkin efek minum tolak angin siang-siang (T___T)

Terus karena kepala gue nyut-nyutan gue jadi bingung mau ngapain, bingung mau ngerjain apa, ngeliat file judulnya "skripsi", "draft bojep", "data curah hujan harian maksimum" ,"data volume genangan" malah tambah nyut-nyutan.

Udah berhari-hari ini kerjaan sehari-hari gue cuman bengong, udah itu bengong dan bengong lagi.

Gue tau, kalo kebanyakan bengong kaya gitu sama aja gue buang-buang waktu. Makanya dengan acara sok-sokan kemaren gue pengang buku suripin lagi. Dan endingnya gue berhasil ngebaca "satu paragraf".

Yah cuma satu paragraf. Ternyata kapasitas otak gue saat itu cuma mampu menampung curhatan pak suripin tentang drainase itu. Dan lagi-lagi gue balik bengong.

Biar gak bengong gue sok ide lagi, cari info-info yang nyangkut tentang skripsi gue di internet. Tapi endingnya 1 tab itu terkalahkan oleh tab-tab lainnya yang isinya facebook, kaskus, detik dan tab-tab lainnya tentang harga-harga lensa.

Ngomong-ngomong soal lensa, gue lagi ngidam lensa sapu jagad alias lensa yang bisa dibuat makro bisa juga dibuat tele. Berhari-hari, berjam-jam gue cari-cari harga lensa seken yang agak murah dan bisa diterima sama kantong gue, kantong mahasiswa.

Sekalinya nemu yang agak murah, lensanya jamuran, kalo ga ada fognya, kalo ga apanya ada yang retak, auto fokusnya ga jalan. Namanya emang lensa seken kali ya. Pas udah nemu yang oke gue liat ATM gue.

Gue lupa duit gue bulan ini tinggal 200 ribu. Mau minta malu. Masa buat seneng-seneng minta-minta duit *padahal sering, haha*

Tapi emang kalian juga pasti kaya gitu kan, ga bakal minta tambahan duit buat seneng-seneng doang atau cuma sekedar buat hobi. Masti mati-matian nabung, dibela-belain kelaparan ato paling maksimal pake duit beasiswa. Haha.. tapi yang terakhir ini kalo ga kepepet juga ga bakal dipake. Haha.. Atau kalo ga separo dari duit beasiswa buat nambahin bayaran kosan, seperempat tabungan, seperempatnya buat seneng-seneng. Haha...

Udahan ah, haha.. 

Selasa, 10 Juni 2014

Tiba-tiba semut

(Sumber gambar : google.co.id)

Saat iseng ngebuka-buka laptop tiba-tiba perhatian mata ini teralihkan oleh semut-semut yang berada di sekitar laptopku. Bukan karena aku atau laptopku manis sehingga semut-semut ini ada disini, tapi memang karena si semut lagi iseng muter-muterin laptop.

Semut-semut ini seakan-akan berjalan tak beraturan, dengan langkah kaki yang tergagap-gagap, terkadang berhenti dan terkadang berjalan dengan cepat. Aku melihat mereka seakan-akan mereka sedang kebingungan, berjalan kesana kemari, bahkan terkadang sampai tidak melihat rekan mereka yang jaraknya mungkin hanya sekedar 5 senti.

Aku tak tau apa yang mereka cari, apa yang mereka inginkan. Tapi menurut dugaanku mereka sedang mencari makanan. Yah mereka mencari makanannya masing-masing. Namun ketika salah satu dari mereka menemukan lokasi makanan tersebut, semut-semut lainnya tiba-tiba berbondong-bondong datang.
Beramai-ramai menghampiri sumber makanan tersebut dalam barisan yang begitu rapi. Dan tak lama kemudian, terlihatlah sebuah kerjasama yang begitu apik. Mereka mengangkat makanan itu bersama-sama, berjalan bersama-sama. Yang tidak ikut mengangkatpun mengiringi di belakang, menjaga apabila tau-tau diserang musuh macam manusia yang suka iseng menyemprotkan baygon padahal jelas-jelas mereka sedang bekerja.

Lalu? ya tidak ada lalu-lalu.

Semut saja bisa bekerjasama, dengan cara mereka sendiri, dengan pembagian tugas yang hanya mereka yang tahu. Masa manusia disuruh kerja sama aja ogah, udah dikasih tugas malah mangkir. Pura-pura lupa tugasnya apa, hingga malahan temennya yang lain jadi kena batunya. Harusnya ya jangan mau kalah sama semut.

Rabu, 18 Desember 2013

Gue kangen rumah

Ini gue lagi di tengah prosesi ngerjain sanling. Gue bilang prosesi karena kalo kata gue tugas ini bener-bener sakral, selain susah jumlahnya juga banyaknya naudzubillah. Dan tiba-tiba gue stuck karena gue bahkan gak bisa nentuin poin-poin apa aja yang diketahui. Bayangin aja, setiap ngerjain soal kan pasti selalu ada poin diketahui, ditanya, dan dijawab, atau kata guru SD gue dulu itu 3D. Dan yang gue ga paham adalah kenapa bahkan untuk menentukan D yang pertama alias poin diketahui aja susahnya minta ampun.

Apa guenya aja yang terlalu odong sampe gitu aja kaga bisa, atau emang karena si materinya ini aja yang rajanya edi. Udahlah, bukan itu esensi yang pengen gue ceritain hari ini. Sebenenernya gue ga pengen bener-bener cerita, gue cuma pengen bilang "gue kangen rumah".

Iya gue kangen rumah tiba-tiba.

Tiba-tiba aja pas ngerjain soal dengan rumus seabrek kaya gini gue jadi keinget kebiasaan-kebiasaan gila gue dirumah pas gue lagi stuck ngerjain soal. Aneh, orang rumah bilang gue aneh, tapi mereka ga protes, paling cuma geleng-geleng kepala aja lalu yaudah gue bisa sesuka hati ngelakuin hal-hal absurd di rumah. Ketika gue lagi stuck ngerjain soal dan kepala gue pusing tuju keliling, gue tiba-tiba ambil helm dan gue pake selama gue ngerjain tu soal dan itu cukup ngebantu kepala gue biar tetep kenceng dan otak gue ga keluar kemana-mana selama ngerjain soal. Dan ketika tetangga gue ngeliat gue, paling dia cuma ketawa dan geleng-geleng kepala dikit, gak protes ga apa (yaiyalaahhh.. haha).

Atau gue tiba-tiba ambil ikat kepala, pokoknya apapun yang bisa ngiket kepala gue, selendang lah, selimut lah, slayer lah, hasduk pramuka gue, dasi gatau punya siapa, bahkan mitela gue juga. Yang penting otak gue ga keluar kemana-mana.

Kadang-kadang gue juga muter-muter ketempat sodara-sodara gue yang notabene tetangga gue sendiri. Yah muter-muter, gue cuma jalan masuk dalam rumah mereka tanpa duduk bahkan tanpa nyapa masuk dan keluar dari rumah sodara gue dan balik lagi ke rumah gue.

Yang paling gue suka adalah gue ngerjain semua perhitungan di lantai, yah di lantai. Bahkan bapak gue sering protes karena harus selalu ngebersihin lantai karena gue corat-coret karena gue udah keburu tepar sebelum ngebersihinnya. Untung gue ga punya inisiatif corat-coret tembok, bisa-bisa bapak gue harus ngecat tembok setiap hari.

Dan yang paling ga bisa gue lakuin disini adalah nyetel lagu sekenceng-kencengnya dan gue nyanyi teriak sekenceng-kencengnya. Karena disini bukan rumah gue, ada banyak kepentingan , dan ada banyak mulut-mulut kejam yang suka mencerca orang yang berisik, padahal orang yang berisik sedang ingin melepas penatnya.

Kapan gue pulang?
Gue dari kapan tau udah ngeliatin kalender nyari hari libur buat pulang. Dan tanggal 25 besok libur, gue pengen pulang dari tanggal 24 tapi kepentok gara-gara ada praktikum hari jum'atnya tanggal 27. Apa gue harus bolos?

Minggu, 15 Desember 2013

Tingkat akhir cooyy !!!

Umur ini sudah semakin menua. Sudah menginjak kepala dua. Tanpa terasa waktu berlalu terlalu lama. Bahkan aku tak sepenuhnya sadar, hidupku ternyata telah dirampas oleh rutinitas.

Sepertinya baru beberapa waktu yang lalu bocah ini masuk TK, merasa phobia dengan semuanya, bahkan sampai tak ingat teman sepermainannya di sekolah pertamanya itu, kecuali dua anak kembar yang notabene tetangga sebelah rumah. Dan waktu berlalu, satu tahun berlalu, merengek untuk dipindahkan karena ketakutan. Dan akhirnya terdampar di sekolah selanjutnya. SD.

Melanglang ke sawah, mencari belalang dan capung, masuk ke kali, bersepeda berkeliling kampung, bermain bola karena mengagumi tsubasa. Aku rasa masa kecilku cukup normal, belum sepenuhnya dirampas oleh si rutinitas, karena masih masa bodoh dengan nilai dan lebih memilih bermain hingga badan gosong karena dibakar matahari.

Dulu ketika SD aku berfikir, SMP itu pasti menakutkan. Dan tiba-tiba tak terasa aku sudah duduk di bangku SMP dan berfikir bahwa SMA pastilah lebih menakutkan. Nyatanya tanpa terasa, karena rutinitas yang sama setiap harinya, tiba-tiba besoknya aku sudah berada di jenjang yang berbeda.

Lalu, sekarang?
Sudah kuliah, sudah tingkat akhir malah. Padahal sepertinya baru beberapa waktu yang lalu aku masih menatap wajah bapak ibuku sebelum merantau ke kota hujan ini.
Mau dikata apa lagi, tiga tahun ternyata sudah terlalui, dengan IPK yang terus-terusan terjun payung dari IPK awal. Semoga di tahun terakhir ini bisa semakin membaik, lancar menjalankan segala kegiatan dan mendapatkan kebiasaan-kebiasaan yang baik.

Di tingkat akhir ini aku harap semuanya berjalan dengan lancar. Aku dan teman-teman SIL 47 bisa menyelesaikan skripsi kami dengan baik dan mendapatkan ilmu yang berguna nantinya untuk pekerjaan kami nantinya. Dan aku harap kami bisa lulus tepat waktu, membanggakan orang tua kami, dan membanggakan almamater kami.

Amin.

Jumat, 06 Desember 2013

Lagi ngobrol sama phil.

Hai phil, tidakkah kau rindu pada saudaramu lil?
Sudah lama kalian tidak bertemu, apakah dia masih seperti dulu adanya? Mungkin dia menjadi lebih dewasa, lebih bijak dari biasa. Mungkin dia telah menjelajah dunia yang dulu diidamkannya.

Catatanmu darinya menghilang bukan berarti kau menghilangkannya dari hidupmu. Saudara tetaplah saudara. Sahabat tetaplah sahabat. Walau bertahun kau tak berjumpa, tak bertukar sapa, tetap saja dia adalah dia adanya.

Terkadang kau ingin meneriakkan namanya, mendengar suaranya, mendengar ceritanya, bernyanyi bersamanya. Tapi ada yang menghalangimu. Kau takut ada yang berubah, kau takut dia menganggapmu berubah. Kau takut dia tak lagi mendengarkanmu ketika kau membagi keluh kesah. Kau hanya takut dan tiba-tiba hingga bertahun-tahun kalian tak lagi berbagi kabar dan dia semakin tersamar.

Kau ingin menyapanya tapi kau ragu, apa dia akan menjawabmu seperti dulu dia menjawab segala bincangan tak pentingmu. Sekali dua kali kau coba, seakan orang yang berbeda yang menanggapimu. Seakan ketus, dan menganggapmu orang asing. Atau itu hanya bayanganmu saja?

Kau phil, walau kau tak pernah berjumpa dengannya, walau kau tak lagi mendengar suaranya. Jangan pernah lupa, dia dulu adalah orang yang selalu menghargaimu, dan kau pun menghargainya. Dia orang yang kau kagumi setengah mati, yang memberimu inspirasi, yang mengajarimu bermimpi alih-laih terus-terusan membual setiap hari. Dia yang mengajarimu berfikir lebih logis, menumbuhkan bakatmu yang malah kau matikan sendiri sekarang.

Dia saudaramu. Sahabatmu.

#Edisi ngomong sama boneka kura-kura

Rabu, 31 Juli 2013

Di suatu sore..

Di suatu sore ketika saya pulang dari tempat praktik lapang, saya melihat ada sebuah keluarga yang berjalan di depan rumah kos-kosan saya di malang. Seorang ayah, seorang ibu dan seorang anak perempuannya. Kala itu hujan turun rintik-rintik, hanya gerimis yang membesar perlahan ketika matahari setengah hati menyinari. Tapi tetap saja, ini malang, dingin.
Sang ayah membuka payung yang dia bawa, tak terlalu besar, hanya cukup untuk dua orang saja. Dan sang ayah mengalah, membiarkan payung tersebut digunakan anak dan istrinya. Dengan tangan yang masih menggandeng tangan anak perempuannya dengan tangan kiri dan tangan kanannya memegang bungkusan plastik, dia tetap berjalan beriringan dalam hujan.
Hingga hujan akhirnya mengalah dan berhenti dan sang matahari datang lagi walau masih setengah hati. Sang ayah menutup payungnya lagi dan membawa payung tersebut.
Bahkan dia masih mau membawanya ketika dia sama sekali tidak memakainya. Karena dia seorang ayah dan dia seseorang yang harus melindungi keluarganya.

Begitulah hidup, memang harus ada yang dipercaya untuk melindungi keluarga dan itu tugas ayah. Tak peduli seberapa berat hidupnya, seberapa berat pekerjaannya, dia telah diberi tanggungjawab yang begitu besar. Namun sekarang banyak tokoh ayah yang bahkan malah tak bisa diandalkan sama sekali. Pergi meninggalkan istri dan anaknya hanya untuk kepuasan pribadinya, hanya untuk bersenang-senang dengan alasan pekerjaan sedang anak dan istrinya merindukan kehadiran sosok ayah dalam hidupnya.
Hidup memang begitu aneh. Di sisi lain ada manusia-manusia yang begitu baik, di sisi lainnya lagi semua orang terlihat begitu buruk, begitu busuk.

Minggu, 14 Juli 2013

Argghhhh !!!!

Menjadikannya lengkung-lengkung berapi, menjadi-jadi menjadi jari-jari yang menautkan hari-hari yang sepi. Berlari lagi, berlari-lari di lembah yang menghampa, yang menginginkan cahaya menghamba. Meninggalkan mentari yang tak mau ikut berpartisipasi, biar gelap yang menemani.

Arrggghh. Random ini menyeretku dalam lubang yang tak ku kenali. Berputar-putar dalam pijakan yang sama, berputar-putar dan ketika aku menengok ke bawah semua masih terlihat sama. Ketika aku menengok ke depan, ke belakang, ke samping kanan dan kiri, semuanya masih sama saja. Namun ketika putaran itu terhenti dan aku melangkahkan satu kakiku tanah memerah, awan merekah, datang terpisah-pisah, dunia ini ternyata telah berubah. Aku merasa bodoh, terpaku pada satu titik dimana aku diputar-putar dengan berbagai macam stigma dan paradigma hampa.

Kamis, 30 Mei 2013

Derik-derik kaki menari

16 April 2013 [15:52]
" Derik-derik kaki menari "
19 April 2013 [07:51]
" Bukannya tidak suka, hanya menghindari benci yang menjadi "
                       [07:54]
" Jendela dalam rangka. Tak peduli cahaya menerobosnya. Membiarkannya tanpa pernah mendispersinya, membiarkannya terefleksi. Sepi. "
01 Mei 2013 [15:36]
" Hidup suka-suka kamu. Suka-suka hidup kamu. "
                     [15:39]
" Bahkan aku tidak bisa melihat hujan "
                     [15:43]
" Derasnya saja terasa, atau ini hanya mati rasa? Atau memang harus merasakannya? Kosong di dada dengan nafas yang tertahan oleh lika-liku jalan. Hampa. Salah perhitungan "
                     [15:46]
" Ditempa, diterpa. Aku hanya bingung mau kemana. Hampa ini terus merejam, seakan menyeret ke jahanam. Merasa sendirian di ramainya ruang. Dan Tuhan menyengajakan, untuk diriku merasakan tamparan badai ini dalam balutan derasnya hujan "
                     [15:48]
" Aku benci jika kosong ini kembali. Ditinggal mati oleh rasa-rasa memiliki. Apa aku harus pergi lagi? Kenapa siklus ini harus selalu terjadi ? "
                     [15:51]
" Itu pilihanmu. Apa masih mau menerjang atau membiarkan ini semua reda dulu "
                     [15:52]
" Aku pikir itu kamu. Angin ini biar aku yang merasakannya sendiri. Biar aku sadar dan tak terus-terusan berlari. "
                     [15:53]
" Hujan ini berjalan tanpa henti, aku hanya menatap mereka yang terus-terusan berlari"
                     [15:54]
" Memberikanku harga mati? Atau menyengajakan untuk mati? Mati hati. Hati mati. "
                     [15:55]
" Tersakiti sendiri, lebih baik tak mendengarkan sedikitpun isu. Biar tak melulu jadi benalu "
                     [15:58]
" Menjerat diri sendiri dalam kehampaan. Lalu kenapa? Harus berteriak-teriak bangga?"
                      [15:59]
" Tidak akan sengaja membiarkannya berubah warna "
" Kapan reda? Kapan tak lagi terasa?"

Jumat, 24 Mei 2013

Kau boleh memilih.

kau boleh memilih apapun, kapanpun, dimanapun dan siapapun. Boleh, kau boleh memilih semuanya, kau boleh menjalani semuanya, asal waktumu ada saja. Kau boleh memilih kisah apa yang ingin kau jalani, kau boleh memilih detik mana yang ingin kau tandai, kau boleh memilih tempat mana yang ingin kau singgahi, kau boleh memilih sifat seperti apa yang ingin kau jalani. Kau boleh memilih, siapa yang bilang kalau kau tidak boleh memilih? Kau boleh memilih. Namun orang lain juga boleh memilih. Jadi ketika apa yang kamu pilih berbeda dengan yang orang lain pilih, maklum sajalah dan saling bertoleransi. Jika sama, kau bisa bekerjasama dan saling membantu kegiatan masing-masing.

Terus esensinya? gue juga ga ngerti ini nulis apa. Hanya kepikiran hal-hal seperti ini saja. Manusia bisa memilih segalanya, mereka punya hak. Namun terkadang ada pembatas-pembatas yang membuat mereka tidak bisa memilih hal-hal tersebut. Namun pula terkadang ada hal-hal yang ketika mereka memilihnya mereka harus berusaha jauh lebih keras untuk mendapatkannya. Karena pilihan itu bukan sekedar pilihan. Terkadang memang harus ada perjuangan, terkadang memang harus ada penyesalan, terkadang memang harus ada kesalahan dan perbaikan. Namun itulah pilihan, ketika kita telah memilih maka kita harus menjalaninya sampau tuntas, bukan malah menjadi semakin malas karena tahu kita harus berjuang lebih.

Senin, 13 Mei 2013

Hey Teman Apa Kabarmu Disana?


Berapa tahun?
Aku pun tak ingat.
Aku menemukan ini ketika kubongkar-bongkar foto-foto jaman dulu.
Tulisanmu kawan, sampai sekarang aku masih menjadi salah satu penggemarmu. Masih, dan tulisan-tulisanmu dulu aku masih menantikannya sampai sekarang.

Aku masih jadi penggemarmu kawan :)
Semoga kau tidak lupa, kita masih sahabat walau kata tidak lagi saling terlontar.

Hari ini dan empat tahun lalu Perang Obor.

Perang obor 4 tahun yang lalu.
Tidak ada yang ingatkah? Tidak tahu kenapa ini melekat erat, kenangan kita semua.
Menanti waktu dimulainya perang obor dengan menghabiskan waktu di pantai sampai adzan maghrib berkumandang. Menanti satu per satu orang dari kita datang, dengan obrolan yang tidak terlalu penting, membahas apapun yang kita lihat, membahas segala yang ada di hari-hari kita, di sekolah dan di minggu-minggu yang sengaja dilewati bersama. Dari pantai ke pantai, kebun kopi, kebun coklat, kebun karet, haha.. selalu banyak hal aneh yang terjadi ketika kita bersama.

Walau diguyur gerimis tak menghalangi kita untuk tetap menonton perang obor yang memang dinanti-nanti. Ini pertama kalinya. Bara-bara tetap menyala. Api dipasang dalam setiap obor raksasa. Suara-suara bergema. Gerimis tak menghalangi tradisi ini untuk tetap dilaksanakan malam itu. Kita berdesak-desakkan diantara orang-orang lain yang ingin menonton, saling menggandeng tangan teman satu sama lain agar tidak saling berpencar. Kita diantara orang-orang yang penasaran, ingin tahu seseru apa tradisi ini akan berlangsung. Menyesak kanan kiri untuk mendapatkan tempat yang lebih depan, untuk melihatnya lebih jelas. Dan ketika perang dimulai. Aku tak tahu, sensasi apa ini. Tak tahu mengapa apa yang ada di depan mataku ini membuatku benar-benar terperangah, sekumpulan orang membawa obor raksasa yang terbuat dari jerami dan saling memukulkannya satu sama lain. Benar-benar menegangkan, tidak terlihar rasa sakit dari orang-orang yang terkena pukulan obor. Semuanya membara, semangat membara. Tanpa sadar kami mulai berteriak-teriak untuk menyemangati dan memperingati orang yang akan dipukul. Kita terbawa suasana menegangkan ini, semua yang menonton terbawa suasana.

Perang obor berakhir, dan kita putuskan untuk menginap di tempat salah seorang dari kita. Menonton wayang? Jelas itu sebuah tawaran yang tak bisa dilewatkan, sejak kecil aku tergila dengan ketoprak dan wayang walau tidak selalu mengerti apa yang sedang diceritakan. Melihat wayang kulit beraksi dengan suara dalang dan sinden-sinden serta hantaman gamelan yang saling selaras dengan arahan dalang benar-benar menyenangkan. Dan malam itu, diputuskan, kita ke balai desa setelah perang obor usai. Melewati kebun-kebun warga yang gelap, mencari jalan pintas untuk bisa lebih cepat sampai di balai desa. Hmm, sederhana, pertemanan ini begitu sederhana. Kita sampai, kita menatap kanan kiri, banyak warga di setiap sisi. Tak ada kursi yang tersisa. Kita menonton sambil berdiri, wayang beraksi, dalang mengayun wayang kulit ke kanan kiri, menjalankan cerita yang tak aku mengerti, sinden bernyanyi dan bunyi gamelan tak pernah mati. Menyenangkan, melihat wayang saling bertabrakan melakukan adegan perang. Suara dalang yang berganti-ganti, cerita yang mulai kami mengerti. Wayang usai dilanjut dengan ketoprak, balai desa mulai sepi karena hari semakin larut dalam gelap, dan kami akhirnya mendapat kursi. Ketoprak ini lebih ringan, kami tertawa-tawa sepanjang malam dengan lawakan-lawakan yang disajikan. Haha, tak terasa hampir tengah malam dan diputuskan untuk pulang ke rumah salah satu dari kita. Tidur seperti ikan pepes, dengan  sebelumnya menyantap gemblong ketan. Pagi datang, pantai lagi dan kembali ke rumah masing-masing, dan sendalku tak lagi menjadi sepasang.

Sudah empat tahun, dan hari ini perayaan Perang Obor yang telah dikoar-koarkan di media sosial berbulan-bulan yang lalu akan dilaksanakan lagi. Perang Obor hari ini, aku pun sebenarnya ingin melihatnya lagi bersama kalian. Dengan rangkaian gerimis, wayang, dan ketoprak orang yang tak bisa terlupakan.

Salam sayang dari temanmu ini yang sedang merindukan kalian. Semoga apa yang kalian lakukan tidak sia-sia dan kita bisa menjadi seseorang yang bisa membanggakan kedua orang tua kita. Semoga kita menjadi seseorang yang tidak akan pernah lupa dengan masa lalu yang menempa kita, dan tetap melihat masa depan sebagai sebuah kesempatan yang tak boleh disia-siakan.

Dan kaki-kaki ini boleh jadi menjadi saksi, bahwa kita nanti akan menjadi yang lebih baik lagi.


Kamis, 09 Mei 2013

Tap tap tap

Tidak ada seorangpun yang ingin tahu siapa sebenarnya saya. Apa saya ini teroris, penjahat atau koruptor, tak ada seorangpun yang ingin tahu. Karena memang sepertinya tidak ada penting-pentingnya bagi mereka dan tidak ada manfaatnya sama sekali.
Masa lalu apa lagi? bertahun saya menguburnya dalam-dalam. Awas saja kalau ada yang mengangkatnya ke permukaan. Tak akan sudi saya menatap wajah orang itu, mendengar suaranya apa lagi.
Haha, dunia memang aneh. Bisa mengubah manusia tanpa kata menjadi seorang pembual, bisa merubah penganiaya menjadi seseorang super alim yang bahkan saya pun tidak bisa mendekatinya sama sekali. Kau yang jahat tidak selamanya jahat, dan kau yang baikpun tidak akan selamanya baik.
Pintu itu, langkah kaki, es teh manis, dan saya si muka kotak. Rangkaian yang bahkan saya sendiri tidak tahu, mengapa Allah merencanakannya seperti itu. Satu tahun pertama, tak bisa percaya pada siapapun, di tahun kedua tetap sama, tahun ketiga sampai tahun terakhir semakin tidak percaya bahwa makhluk yang bernama teman itu ada.
Dulunya pun saya ini manusia penuh harapan. Menjadi lebih baik, menjadi lebih pintar, menjadi lebih untuk kedua orang tua saya. Tapi sekarang? Karena sebuah sesi yang melepas jangkar saya dan melepas kapal saya, membuat saya terombang-ambing. Meragukan dunia, meragukan siapapun yang akan dipercaya.

Selasa, 16 April 2013

Aku buat ini untuk menjadikannya memori

Aku buat ini untuk menjadikannya memori. Tak akan terlepas dan tak akan terhempas. Melekat erat dalam rongga-rongga di kepala. Menggema dan menggema ketika aku mulai mengingatnya.Dan ketika menjadi-jadi, aku akan mulai meredamnya dengan menambal rongga di kanan-kiri. Aku hanya menambalnya, menutupnya, tanpa pernah membuangnya. Biar saja, ini hanya memori. Bukan hal yang perlu ditangisi atau dikasihani. Bukan hal yang membuatku tertahan dari kehidupan, bukan hal yang akan menyita hari-hariku. Bukan pula citra yang harus dipertahankan. Ini hanya memori yang bisa ditutup dan dibuka kapan saja. Ini hanya album, yang menyimpan cerita, kisah tawa, dan kumpulan jalan yang pernah ditempuh bersama makhluk Tuhan lainnya.

Ini hanya memori, yang akan tetap dipertahankan. Yang tak akan dihapuskan walaupun sempat terasa menyakitkan.

Senin, 15 April 2013

Sekarang aku yang menunggu.

Sekarang aku yang menunggu detik
Kapan mereka akan diistirahatkan
Kapan mereka akan direhatkan sejenak
Pada satu detik dimana duka ditiadakan
Resah, gundah, khawatir dan perasaan lelah dilenyapkan
Dan senyum-senyum merekah tanpa pernah merasa jengah
Tanpa pernah merasa harus mengalah oleh masalah
Sekarang aku yang menunggu hari terbagi
Menjadi kompartemen-kompartemen yang ditata hati
Sedih terpisah dengan bahagia
Luka terpisah dengan gembira
Dan aku bisa bebas memilihnya
Memilih satu hari yang diisi oleh kompartemen bahagia
Tanpa takut tersesat di bukit penuh duka dan derita
Tanpa pernah khawatir akan ditusuk luka kembali
Sekarang aku yang menunggu
Waktu untukku merasakan senyum yang merekah tulus
Dan senyum-senyum mereka yang tersenyum kepadaku, dengan tulus.
Karena aku dan mereka tau, kita mengejar bahagia dengan menjadikan baik sebagai patokan.

Senin, 08 April 2013

Sebenarnya ini sama saja

sebenarnya ini sama saja, hanya berbeda tata bahasa. Tapi isinya tetap sama, bualan-bualan yang terangkai dalam kata. Kadang elegi yang mengecam hari, kadang melodi yang berseri-seri.

Senin, 11 Maret 2013

Tidak ada

"Tidak ada seorangpun di dunia ini yang dengan sengaja mengundang derita dan melarang bahagia untuk datang menghampirinya. Tidak ada. Aku harap kau pun tidak.

Basa-basi basi

basa-basi bagai adiksi
untuk melangkah maju mengenal lebih banyak lagi
curahan kata-kata konstruktif ditata dengan apik
bagai lirik menyamarkan gerak gerik
menarik segala tendensi
dari serapah dan caci maki
konflik sebisa mungkin dihindari
menyamakan preferensi
walau terasa fiksi

sepi, terkadang menjadi basi
basa-basi basi.

Minggu, 10 Maret 2013

Tak ada arti

menantang di depannya
dengan asap rokok di udara
memasuki paru-paru hampa
yang terusak menahan detak
dia menggambarkan sosok dengan titik-titik bertumbukan
titik-titik kosong,
palsu belaka.
kelontang berbunyi,
ini hanya gambar yang disobek-sobek lagi
tak ada arti
tak layak di memori
seperti air kopi yang di buang ke kali
tak terasa oleh jari-jari

Jumat, 01 Maret 2013

Perang obor, api dan gerimis

Terkumpul jiwa yang bertanya-tanya
Yang mengikatkan diri dalam transparasi
Dan tak pernah peduli pada preposisi
Karena kata dasar cukup untuk saling mengerti
Kita tertawa dengan imajinasi
Terbahak kala senja hari
Menunggu perang dimulai lagi

Obor dibakar
Emosi melebar
Meluap menghancurkan amarah yang beredar
Api menjulang tinggi
Hawa panas menyergap hati
Bara mengenai diri

Titik-titik berjatuhan
Meredam bara api yang memerah
Menjadikannya tenang.
Gerimis di malam itu
Walau tidak mematikan api
Tapi cukup mampu untuk menenangkannya
Membuat lemah amarah.
Mengurangi pertumpahan darah.