Selasa, 03 September 2013

Bagaimana Rasanya

Bagaimana rasanya kamu dikukuhkan dengan segala tendensi, dengan segala preferensi yang membenarkan satu hal yang sering kamu sebut dengan ilusi. Sedangkan jiwamu perlahan-lahan mati, dibunuh oleh segala inginmu akan dunia. Dan kamu dengan bodohnya masih terus tertawa, mencoba mengisi apa yang melompong, mencoba mengisi kematian jiwamu dengan humor yang tidak kamu mengerti. Padahal aku tahu, kamu ketakutan setengah mati.

Kamu menunda semuanya, bahkan kau juga menunda waktumu untuk menghidupkannya lagi. Kamu terlalu kiri, selalu mengagungkan otak kiri. Mendewakan rutinitas yang sama setiap hari. Hanya untuk pengakuan sehari kamu berupaya setengah mati, tapi tidak ada jejak yang kamu tinggalkan sebagai sebuah jejak memori, pudar begitu saja karena terlalu geli untuk memikirkannya kembali.

Sabtu, 24 Agustus 2013

Surat untukmu dari dirimu.

Terima kasih untuk waktu yang telah dibuang-buang selama ini ndik. Memang banyak yang harus disesali tapi untuk menghabiskan seluruh waktumu hanya untuk menyesali apa yang telah kamu lakukan, rasanya itu benar-benar membuang waktumu jauh lebih banyak. Kau melakukan suatu hal dan kau salah dan kau menyesalinya itu wajar. Namun ketika kau berdiam diri tidak melakukan apapun, lantas kau berharap sesuatu yang baik akan datang kepadamu dan kau terus-terusan menunggu hingga apa yang kau harapkan itu tak kunjung datang, lalu kau mulai marah pada dirimu karena tidak melakukan apapun lantas kau menyesalinya, aku pikir kau aneh.

Kau bisa berkehendak, kau bisa berharap apapun, namun ketika ada orang lain menekanmu kau begitu ketakutan. Takut orang itu tak akan mempercayaimu lagi, takut orang itu akan pergi dan meninggalkanmu, takut orang itu tak akan menemuimu lagi, dan kau akhirnya mengikuti apa yang orang lain inginkan hanya karena kau takut sendirian. Yah, kau takut sendirian.

Kau bisa berucap, tertawa kencang, berteriak lantang, namun ketika pendapatmu tidak sepaham dengan mereka kau malah terdiam. Dimana keberanianmu? Lenyap kemana? Kau punya hak untuk bersuara, bukan hanya memendamnya sendirian. Kau begitu takut ditertawakan, takut dianggap remeh, hingga akhirnya kau hanya bisa bilang iya, dan tidak menolak apapun yang mereka katakan, hanya karena ketakutan kau akan dianggap rendah. Kau hanya ketakutan.

Lantas apa? Aku tidak ingin mengumbar apa-apa, aku hanya ingin memperingatkanmu. Kau juga manusia yang layak untuk menjadi berani, tidak ada yang menghalangimu bahkan dirimu sendiri. Ketakutanmu selama ini kau sendirilah yang menciptakannya. Bahkan ketika kau berfikir kau akan menjadi kau yang lebih berani, aku yakin pasti semesta mendukungmu, begitupun aku, dirimu ini.

Aku tidak akan memaksamu, karena akupun merasakan ketakutan yang sama, namun aku akan menjadi berani untuk diriku sendiri, perlahan, mengubahmu menjadi seseorang yang tak takut dicap sebagai orang mati ataupun orang yang tak tahu diri. Karena berdiri itu hak setiap orang, berlari juga hak setiap orang. Kau bisa berusaha. Siapa bilang orang itu tercipta seperti adanya sekarang. Semua orang berusaha, begitupun kau, begitupun aku.

Selamat berusaha lebih keras, untuk hidup yang lebih berani, untuk hidup yang lebih tahu diri dan memahami serta lebih mengerti tentang hakikat hidup atau mati, sendiri atau bersama, dan bersosialisasi lebih baik serta lebih bisa mengontrol diri sendiri dan lebih bisa menempatkan diri.

Salam,
Otak Kecilmu.

Rabu, 31 Juli 2013

Di suatu sore..

Di suatu sore ketika saya pulang dari tempat praktik lapang, saya melihat ada sebuah keluarga yang berjalan di depan rumah kos-kosan saya di malang. Seorang ayah, seorang ibu dan seorang anak perempuannya. Kala itu hujan turun rintik-rintik, hanya gerimis yang membesar perlahan ketika matahari setengah hati menyinari. Tapi tetap saja, ini malang, dingin.
Sang ayah membuka payung yang dia bawa, tak terlalu besar, hanya cukup untuk dua orang saja. Dan sang ayah mengalah, membiarkan payung tersebut digunakan anak dan istrinya. Dengan tangan yang masih menggandeng tangan anak perempuannya dengan tangan kiri dan tangan kanannya memegang bungkusan plastik, dia tetap berjalan beriringan dalam hujan.
Hingga hujan akhirnya mengalah dan berhenti dan sang matahari datang lagi walau masih setengah hati. Sang ayah menutup payungnya lagi dan membawa payung tersebut.
Bahkan dia masih mau membawanya ketika dia sama sekali tidak memakainya. Karena dia seorang ayah dan dia seseorang yang harus melindungi keluarganya.

Begitulah hidup, memang harus ada yang dipercaya untuk melindungi keluarga dan itu tugas ayah. Tak peduli seberapa berat hidupnya, seberapa berat pekerjaannya, dia telah diberi tanggungjawab yang begitu besar. Namun sekarang banyak tokoh ayah yang bahkan malah tak bisa diandalkan sama sekali. Pergi meninggalkan istri dan anaknya hanya untuk kepuasan pribadinya, hanya untuk bersenang-senang dengan alasan pekerjaan sedang anak dan istrinya merindukan kehadiran sosok ayah dalam hidupnya.
Hidup memang begitu aneh. Di sisi lain ada manusia-manusia yang begitu baik, di sisi lainnya lagi semua orang terlihat begitu buruk, begitu busuk.