Jumat, 27 Mei 2016

Si Tuyul, Tukang Maling Duit Rakyat

Jabatan tidak menjamin seseorang bersyukur dengan apa yang dia punya. Harta memang seringkali membutakan mata.

Seperti orang satu ini, datang dengan sebuah jabatan Kepala Seksi (Kasi) KSDM bukan menjadikan dia seseorang yang datang untuk memperjuangkan hak-hak SDM pegawai proyek, bukan menjadikan dia mengusahakan kesejahteraan pegawai proyek, bukan menjadikan dia penyalur aspirasi orang-orang yang ada di bawah.

Sebuah jabatan yang nyatanya malah ada untuk menekan hak orang-orang di bawahnya dan mengambil kesempatan sebanyak-banyaknya untuk mengambil uang proyek. Entah apa yang ada di pikiran si tuyul satu ini. Gaji lebih dari cukup, tunjangan apalagi sangat-sangat cukup.

Namun yang ada di pikiran dia hanya bagaimana membuat gajinya utuh, dengan segala cara dihalalkan karena akses dia sebagai seorang Kasi. Bagaimana mengambil uang proyek dengan nilai sebanyak yang dia bisa. Mulut manis, menjilat sana-sini, menjilat orang-orang atas, menjelekkan orang-orang di bawahnya, seakan kinerja dia paling baik. Namun ketika ada masalah dengan entengnya lepas tangan, mengkambinghitamkan dan berpura-pura menyelesaikan masalah yang sebenarnya dialah penyebabnya.

"Saya disini untuk memperbaiki administrasi proyek"

Memperbaiki administrasi??
Administrasi baik menurutmu saja, pintar-pintar saja kau cerita, banyak pula duit yang kau maling.


Duit orang-orang kecil di ambil. Hak-hak orang kecil diambil.

Membuat aturan agar tidak ada yang menyalahgunakan uang proyek. Padahal sendirinya liburan bareng keluarga minta dibayari proyek dengan dalih survey lapangan.

Namun ketika ada pegawai yang meminjam uang proyek yang nilainya tidak sebanding dengan biaya liburannya itu, untuk biaya operasi ibu si pegawai proyek malah ditolak mentah-mentah. Dan akhirnya ibu si pegawai proyek meninggal.


Brengsek memang.

Brengsek...

Tunjangan orang-orang nilainya dia kecilkan, sementara untuk dirinya sendiri dia besarkan. Mentang-mentang punya jabatan.


Orang-orang kecil yang makan saja susah masih disusahkan.
Orang yang sekarat dia matikan.
Orang yang bisa dia tendang, dia tendang.

Setan macam apa ini.
Kenapa bisa-bisanya kami diberi cobaan dengan didatangkannya makhluk satu ini di proyek kami yang tadinya begitu tenteram, yang tadinya kinerja dihargai. Dia berhasil rusak.


Bukan kapro kami tidak bisa apa-apa. Si Kapro kalah tua, masih anak muda. Masih belum selicik si Tuyul yang sudah pintar menjilat orang-orang atas.


Kami apalagi, staf kecil. Yang semakin hari semakin dikecilkan oleh si Tuyul. Lemburan kami tidak masuk akal dibandingkan nilai lemburan teman-teman lain seangkatan kami.

Bukannya kami tidak bersyukur.
Kami bersyukur dengan apa yang kami dapat.

Tapi bukan berarti dia bisa semena-mena. Menghambat kami berkembang, menahan semua hak-hak kami,


Sudah terlalu banyak manusia yang telah disakiti si tuyul ini. 
Semoga akan datang azabnya nanti.

Allah akan membalas kelakuannya yang mendzalimi banyak orang kecil dengan azab yang setimpal.

Amin.




Kamis, 17 Maret 2016

Pagi lalu.

Pagi lalu, detik masa lalu kembali lagi mengusik, menggelitik, mengusik musim yang telah tenang, mengusik pikiran yang mulai terbang.

Derik yang dulu kau pastikan berhenti, yang kau pastikan tak akan datang lagi, yang kau pastikan tidak akan kembali. Kini mulai bernyanyi lagi, memang tidak dengan suara merdu atau mendayu, tidak dengan nada-nada minor, tidak dengan frasa-frasa persuasif, namun berhasil menciptakan gegar yang membuat benci memudar.

Aku dan pikiranku mulai buyar, kembali lagi pada parasmu yang tersuar, aku mulai terkapar, jatuh dalam bayang-bayang. Dan pagi menjadi siang, kehadiranmu terus berulang. Aku rasa aku harus pulang, mencari kembali tenang, dan pikiran tentangmu lebih baik aku buang.

Kamis, 14 Januari 2016

Lembaran Kosong

Kamu selalu mencari jengkal, mencari spasi sebanyak-banyaknya. Tapi kamu tahu, semakin banyak jengkal dan semakin banyak spasi berarti semakin banyak pula halaman yang sengaja kamu coba untuk kosongkan.
Lembar kosong tidak selalu menyenangkan, lembar kosong itu berarti kamu mengisi sesuatu yang sebelumnya kosong dengan kekosongan. Kamu mengisi yang hampa dengan yang hampa. Dan kamu  pun menjelma menjadi manusia kosong.
Tidak salah, tidak ada yang salah. Keputusan yang diambil siapapun kapanpun dan tentang apapun memang tidak pernah salah. Karena keputusanpun adalah sebuah pilihan yang tiap orang punya hak untuk melakukannya. Entah itu benar atau tidak dimata orang lain, tapi hal itu selalu benar dimata kita sendiri meskipun hanya pada saat itu.
Dan memilih jadi kosong pun sebenarnya bukan hal salah, hanya saja tidak wajar dan tidak biasa menurut orang sekitar.

Bukan berarti kamu tidak boleh mengosongkan lembaran hidupmu, kamu boleh, hanya apakah kamu mampu mengosongkan sesuatu yang selayaknya harus diisi oleh sebuah pena atau cerita.

Rabu, 04 November 2015

Melangkah?


Kau bilang kau akan melangkah.
Menjejak lagi walau terasa payah.
 Mengulum kata meski hanya sepatah.
Tak pedulikan sumpah serapah yang menganggap kamu sampah. 

Selasa, 01 September 2015

Lengah.

Ada sejarah yang coba diukir manusia yang mulai gerah. Dia marah dan mulai tak terarah. Namun dia ingin membuat sejarah. Sejarah berdarah.

Namun ada yang salah. Dia mulai lelah. Bahkan sebelum dia mendaratkan langkah.
Dia mulai lengah, mungkin karena jengah.
Dia kembali tak berarah.
mungkin tak ada lagi darah, tak ada lagi sepatah langkah.

Jumat, 12 Juni 2015

Random

Buta, atau sedang pura-pura membuta. Benar tidak tau atau berpura-pura tidak tau. Kau tau pasti sendiri jawabannya. Terserah jawaban yang mana yang bisa membuat hatimu sedikit lega.

Meski kau bilang berkali-kali kau tidak ingin tau, kau selalu berakhir dengan mencari tau. Dan kemudian kau berulah seperti kau tidak tau.

Kau tau, kau tidak mau tau, tapi kau tidak mau tidak tau, dan malah mencari tau.

Karena kau terlalu peduli, tapi berpura-pura tidak mengerti, biar dianggap tidak peduli. Padahal kau tau pasti kau begitu peduli.

Kamis, 30 April 2015

Jengkal

Mungkin sebuah jengkal bagi orang berakal bukanlah hal yang khayal.
Terkadang ada dan menjadi aral,
terkadang ada dan menjadi kurawal yang justru mengawal.
Tergantung dari sudut mana orang itu memandangnya.
Jengkal menjadikan jeda ada.
Menjadikan spasi menjadi hal yang bukan lagi basa-basi.

Jengkal juga bisa menjadi sesal.
Ketika keberadaannya tidak diharapkan ada,
namun malah dia muncul dimana-mana.
Jengkal yang menjengkelkan, ada juga.

Jumat, 06 Februari 2015

?

Aku selalu bertanya, bagaimana caranya menjadi manusia?
Aku manusia juga. Tapi aku belum bisa mengerti apa hakikatnya menjadi manusia, apa definisi kita?
Terkadang manusia hidup untuk menjadi manusia yang manusia lain inginkan. Terkadang yang lain manusia hidup hanya untuk memberi luka pada manusia lainnya.
Meski ada juga manusia yang begitu baik pada manusia lainnya.

Terima kasih Allah.

Jika harus melewati jalan berputar aku tidak akan mempermasalahkannya. Mungkin aku hanya akan sedikit menggerutu mengapa Engkau tidak menyetujui proposal hidupku, namun aku tak akan pernah berani untuk mengingkari kehendak-Mu, karena manusia hanya bisa berencana kan?

Dalam setiap kegagalan kau selalu memberi pelajaran, bahwa keberuntungan memang tidak selalu di pihakku, bahwa terlalu puas pada diri sendiri dan terlalu berharap dengan sesuatu justru akan menyakiti diriku sendiri. Engkau membiarkan aku merasakan sakitnya, engkau membiarkan aku mengalaminya, dan memberiku peringatan bahwa itu sebenarnya itu hanyalah baru sebagian kecil kepahitan yang akan aku terima, hanya sebagian kecil.

Dan bahkan Engkau memberiku kesempatan untuk tidak menyerah. Dan aku semakin sadar Engkau mencintai dan menyayangi umatMu dengan jalanMu sendiri, jalan yang lebih baik dari yang hambaMu pikirkan. Engkau selalu membimbing kami dan mengarahkan kami pada jalur yang Engkau anggap itu jalan terbaik untuk kami.

Terima kasih Allah.
Aku harap aku bisa mendapatkan jalan terbaik yang telah Engkau siapkan, meski berkali menelan pahit, meski berkali terjatuh dan tertatih. Aku yakin Engkau akan membimbingku.

Kebayoran Baru, 6 Februari 2015.

Kamis, 01 Januari 2015

Terkadang....

Satu, dua.

Gemparku teredam gegarmu.
Hening menyelimuti diri yang mulai terbagi
Mungkin satu dari kita memang tidak pernah menghendaki
Satu menjadi dua, dua menjadi satu
Kupikir ini hanya pikiran yang berombak,
Yang akan segera menjadi buih kemudian
Namun tanpa sadar pikiran ini mulai terbelah
Berontak berbelok arah
Aku mengharap jalan yang lurus tanpa halangan
Namun kau mencari-cari rintangan
Dan kita tidak pernah menemukan setitikpun jawaban
Akan sebuah pertemuan yang pernah digariskan

Saling mengenyahkan jelas bukan jawaban,
Karena kita tahu garis terbuat dari banyak titik
Dan hujan terdiri dari banyak rintik
Aku rasa kita masih bisa bertransformasi dalam gerak-gerik
Beradu dalam nada berisik
Dan mempertahankan kaki yang berderik
Dalam satu yang terdiri dari dua,
Dan dua yang menjadi satu.

Sang Kanan.

Aku tahu semua inderamu menginginkannya. Aku tahu kau ingin merasakannya lebih. Tapi manusia kanan tidak akan pernah menerima si kiri. Dan kau bertindak sebagai si kiri karena kau tahu kau tak akan bisa menjadi kanan. Karena dalam aliran darahmu mengalir darah manusia kiri. Kau mencoba tak peduli, menyiratkan segala inginmu yang membuncah dari lubuk hati. Kau mencoba tak peduli, mengacuhkan sisi kanannya dan mengacuhkan sisi kirimu. Kau mencoba tak peduli, namun percuma. Karena dia adalah sang kanan. Sang kanan akan mendambakan kebenaran menyelimutinya. Sang kanan hanya akan mengisi hidupnya dengan kebaikan. Sang kanan tidak kan pernah melanggar apa kata Tuhannya. Sang kanan hanyalah sang kanan, yang tak akan pernah menerima keberadaan si kiri. Karena dia adalah sang kanan.

Berani? Kapan?

"Kamu tunggu sampai kamu cukup berani? Kapan?" Ingat betul aku, itu yang kau ucapkan padaku ketika hal yang terucap dari mulutku hanyalah "nanti, jika aku sudah berani"

Benar kata orang, memulai itu tidak mudah. Tapi tanpa memulai semuanya tidak akan berubah. Aku tetap disini dan kau semakin menjauh.

Meskipun berkali aku membela diri, penantian ini pasti ada ujungnya, menungguku ini juga pasti ada akhirnya. Namun sepertinya tidak ada yang setuju denganku.

"Kamu belum siap? Kamu tidak akan pernah siap jika kamu selalu berfikir kamu belum siap."

"Aku tahu kamu bukan orang yang suka mempersiapkan diri, aku tahu kamu bukan orang yang suka dengan segala macam rencana. Aku tahu kamu bukan orang yang suka berjalan di garis lurus. Namun aku juga tahu kamu bukan orang yang mudah memulai, kamu bukan orang yang mudah membuka diri, kamu akan menolak orang yang mencoba menyakitimu. Aku tahu. Tapi itu semua bukan alasan untukmu tidak menapak hidup yang lebih jauh lagi, itu bukan alasan untukmu untuk berhenti dan berdiam diri. Itu bukanlah alasan untukmu mematikan inginmu."

"Stop all your denial, try to go out from your box. There is a beautiful life in front of you that you can't see because you never open your eyes and your minds"

"Kapan kamu memberanikan diri?"

Kotak tua

Dia punya begitu banyak rahasia, yang di disimpannya dalam sebuah kotak tua. Kotak yang diberikan padanya semenjak umurnya menginjak delapan. Kotak yang disimpannya di bawah dipan dan tak ada seorangpun yang tau keberadaannya.

Isi dari kotak itu mungkin hanya dia yang tahu. Segala bahagianya yang begitu sederhana, segala ketakutan yang merayapinya, segala sakit hati yang telah dia lipat berkali-kali, segala tentang hidupnya, bahkan hatinya yang selama ini tidak pernah dia percayakan pada siapapun dia simpan disana. Dia simpan dan hanya dia simpan, tanpa ada keinginan untuk membiarkan orang lain mengintipnya.

Mungkin benar kotak itu buat orang lain hanya sekedar sampah tua yang layak untuk di bakar bahkan diloakkan. Tapi untuknya, kotak itu adalah hidupnya. Kotak itu adalah museum hidupnya, yang telah menampung segala cerita masa lalunya dan yang akan menyimpan segala kisah masa depannya. Kotak itu hanyalah miliknya.

Meski sekarang telah berdebu dan warnanya menjadi kelabu, kotak tua itu tetap dia simpan di bawah dipan dan dia buka untuk meyimpan ketika dia mulai kesakitan. Kotak itulah yang bisa meredakan sakitnya meski tidak akan pernah bisa mengobatinya.

Hanya kotak itu.

Jumat, 29 Agustus 2014

Traumatik.




Saya yakin setiap manusia pasti pernah mengalami kejadian, hal dan peristiwa traumatik yang membuatnya menjadi trauma akan suatu hal. Namun tidak semua orang menanggapinya dengan hal yang sama, ada yang dapat dengan cepat melupakannya ada pula yang mengingatnya begitu lama hingga ketakutan tersebut benar-benar membekas pada dirinya sendiri. Cepat atau tidaknya seseorang melupakan kejadian yang membuatnya trauma kadangkala memang tergantung akan kadar atau seberapa besar kejadian itu berdampak pada dirinya dan hidupnya. Hal-hal sepele mungkin bisa terlupakan.

Namun terkadang hal sepele juga bisa menjadi masalah yang begitu besar karena sebelumnya diawali dengan hal traumatik yang begitu menyakiti dirinya  dan hidupnya sehingga secara tidak langsung ketika terjadi kejadian yang sedikit mengingatkannya akan hal traumatik tersebut, dirinya secara langsung melakukan penolakan, pembencian yang begitu mendalam akan hal tersebut.

Hal traumatik tak hanya terjadi karena seseorang itu merasakannya secara langsung, namun terkadang bisa juga terjadi karena seseorang tersebut hanya melihat atau bahkan hanya mendengarnya tanpa merasakannya secara langsung. Hanya dengan melihat orang dibunuh, dibacok dan dianiaya kau bisa menjadi trauma, takut akan segala hal yang mengingatkanmu akan hal itu. Begitu juga mendengar rintihan orang yang tersiksa dan teraniaya, bisa jadi kau juga ikut merasakan apa yang mereka rasakan dan merasa trauma akan hal tersebut, entah karena scene  tersebut terlalu melekat dalam kepalamu atau karena sebuah penyesalan besar dimana kau tau hal tersebut tapi kau hanya bisa diam saja, hanya bisa melihat dan mendengarnya tanpa mampu berbuat apa-apa. 

Waktu untuk melupakan hal-hal tersebut juga kadangkala begitu lama, bisa jadi malah seumur hidup, tak bisa lupa. Terkadang manusia-manusia yang mengalami hal traumatik tersebut melakukan penolakan terhadap dirinya sendiri, dengan mengingkari dia pernah mengalaminya. Terus menerus mengatakan pada dirinya bahwa hal tersebut tidak pernah terjadi padanya dan hanya khayalannya semata. Namun penyangkalan dan pengingkarannya tersebut malah membuat pikirannya bias dari hidupnya, sedikit melenceng walaupun terlihat baik-baik saja.

Kejadian traumatik bisa juga menjadikan seorang individu memiliki diri yang dia ciptakan sendiri untuk melindungi dirinya yang asli yang begitu ketakutan. Bisa menciptakan topeng yang begitu sempurna hingga tak seorangpun menyangka dia pernah mengalaminya. Bisa menciptakan tembok yang begitu kokoh yang membatasi orang lain masuk ke dalam hidupnya, meski sepertinya dia terlihat begitu ramah pada setiap orang. Karena dia punya ketakutan yang dia tahan agar tidak menyebar, dia simpan dalam kotak dan dia kubur dalam-dalam agar tak seorangpun bisa menemukannya. Namun hal tersebut malah membuatnya semakin menderita, karena ketakutan itu masih tetap ada meskipun dia telah menyembunyikannya. Ketakutan itu siap meledak kapan saja, siap menghancurkannya dimana saja. Karena ketakutan itu masih ada.

Untuk itu ketakutan itu perlu dihancurkan sebelum dia menghancurkan kita, perlu kita buang bukan kita simpan ataupun kita sembunyikan. Diawali dengan penerimaan bahwa ketakutan itu ada, ada, dan ada. Dan kita harus menang darinya,

Namun itu tak semua tak semudah yang dikatakan,

Karena penerimaan juga menyakitkan.

Senin, 07 Juli 2014

Jengah Menengadah

Jengah menengadah
melihat semuanya dari bawah
menatap lagit yang tergurah
pasrah

jengah menengadah
menenggak setiap bilah
yang kata mereka telah terpilah
padahal salah

jengah menengadah
jengah mengalah
jengah selalu pasrah
jengah dianggap bersalah
jengah

Senin, 30 Juni 2014

Aku lupa dulu kau pernah ada

Aku lupa, aku dulu pernah begitu tergila. Lalu aku lupa, aku lupa sama sekali rasanya.

Aku lupa, dulu pernah ada isyarat tercipta. Engkau yang bernada, engkau yang selalu bersuara, engkau yang selalu bisa menjadikan segalanya nyata. Aku lupa.

Aku lupa kau pernah ada.

Kamis, 12 Juni 2014

Manusia Di Balik Tangan

Rapih sekali mereka menjalankan manuver mereka. Di balik tangan, di bawah kekangan kebebasan mereka tetap bergerak. Nyata mempengaruhi satu per satu orang, bukan dengan cara radikal namun dengan cara halus dan menawan.

Perlahan-lahan tapi pasti, menyusupkan buih-buih anestesi. Mempengaruhi, membuat ragu-ragu menjadi pasti, mebiaskan batas-batas eksekusi. Hingga yang ditalak mati pun bisa bernafas kembali.

Tak pernah ada senyum-senyum kecut pada mimik muka mereka. Mereka tahu usaha kecil mereka tak pernah sia-sia. Tidak mudah memang menyusupkan  nada-nada asing dalam sebuah harmoni. Namun tidak semua hal yang berbeda harus ditentang. Mereka juga tidak memaksakan untuk menang, hanya penerimaan yang mereka harapkan.

Mereka tahu diri, jika rintihan mereka akan sulit terdengar dalam riuhnya gelak tawa sang mayoritas. Tapi itu bukan alasan bagi mereka untuk rendah diri dan merendahkan diri mereka. Kalau bukan diri mereka yang menegakkan diri mereka dan membuat pribadi mereka menjadi pribadi yang bisa dihargai lalu siapa lagi.

Batu pun bisa pecah oleh tetesan air. Sedikit demi sedikit pembuktian mereka, sedikit demi sedikit kebanggaan mereka susun setinggi-tingginya. Membuat dunia perlahan menatap mereka dan menganggap mereka ada dan nyata.

Karena pada dasarnya memang tidak ada usaha yang sia-sia. Harmoni bisa ditambahkan nada, masakan bisa ditambahkan rasa dan hidup bisa ditambahkan warna.

Rabu, 11 Juni 2014

Tujuan Hidup?



 (Sumber gambar : Google)

Sudah lama tidak mengetikkan kata-kata basi, kalimat-kalimat elegi, maupun tragedi yang disulap menjadi ironi. Sudah lama pula tidak berjumpa dengan portal maya ini, menuliskan apa yang tidak seharusnya tertulis, menyusun kata yang tidak seharusnya tersusun menjadi sebuah kalimat. Terlalu lama hingga lupa dengan gaya bahasa sendiri, lupa dengan logat-logat yang terbiasa terlontar, dan berakhir dengan bertele-tele seperti ini.

Namun tetap ada satu hal yang masih mengganggu. Terngiang-ngiang menjadi sebuah pertanyaan yang sama yang dilontarkan bertubi-tubi dan tetap saja aku masih belum bisa menjawabnya, belum sanggup tepatnya. Masih sama, masih seperti beberapa tahun lalu setelah aku meninggalkan sekolah, pertanyaan ini belum juga terjawab.

“Apa tujuan hidupmu ?”

Berkali-kali aku mencoba bertanya pada diriku sendiri, tapi hingga sekarang aku belum bisa menjawabnya dengan pasti, belum sanggup menyatakannya dengan lantang, dengan keberanian untuk menetapkan tujuan hidupku sendiri. Mungkin aku masih terlalu lemah dan tidak percaya pada diriku sendiri.

Tujuan? Dulu aku berpikir tujuan hidupku adalah menikmati hidupku. Namun aku tak kunjung menikmati hidupku dan berakhir dengan bermalas-malasan dan menghambur-hamburkan uang untuk hal-hal yang tidak begitu penting. Kemudian aku berfikir, ini begitu tidak berguna, ini tidak ada artinya, dan malah menjadi beban orang tuaku. Dan aku tahu pasti ini bukan tujuan hidup, tapi malah merepotkan hidup orang lain, menjadi beban. 

Lalu aku berfikir, aku ingin menjadi orang yang lebih berguna dan aku mencoba menjadi relawan, menjadi bagian dari sebuah organisasi. Tapi apa? Bahkan hampir setahun aku tidak merasakan aku ini adalah relawan, karena kau tau apa, semua kegiatan yang aku ikuti hanya  bentuk dari program kerja yang harus segera usai dan harus segera dikerjakan laporan pertanggungjawabannya, membuat bosan dan ingin segera hengkang karena serasa terkekang.

Kemudian sekarang aku mulai berteriak-teriak pada diriku sendiri.

“TUJUAN HIDUPMU ADALAH KELUARGAMU DAN KELUARGA BESARMU. MEREKA MENARUH HARAPAN BESAR PADAMU. JANGAN KECEWAKAN MEREKA. KAMU, KAMU YANG HARUS BISA DIANDALKAN, KAMU HARUS BISA MENJADI TEMPAT MEREKA BERGANTUNG KETIKA MEREKA KESUSAHAN, KAMU HARUS BISA MEMBANTU MEREKA”

“KAMU HARUS BISA MENJADI ORANG, ORANG YANG BISA DIANDALKAN”

Berkali aku teriakkan itu, terngiang-ngiang perkataan mama, bapak, budhe dan bulekku.

“Awakmu kudu dadi wong sukses ndik, ben iso ngewangi dulur-dulurmu seng kesusahan, ngewangi budhe lan bulekmu sing wes mulai berumur iki. Dadi bocah sing iso dibanggaake mama karo bapakmu iki” 

Inikah tujuan hidupku? Bagaimana caraku mengeksekusinya? Sementara diriku yang sekarang ini tidak mempunyai minat pada apapun, tidak ingin berharap apapun dan tidak ingin melakukan apapun.

Inikah? Aku masih takut.

Asal aja - Kepala gue nyut-nyutan !!!!

Ini gue gatau kenapa kepala gue daritadi nyut-nyutan. Mungkin efek minum tolak angin siang-siang (T___T)

Terus karena kepala gue nyut-nyutan gue jadi bingung mau ngapain, bingung mau ngerjain apa, ngeliat file judulnya "skripsi", "draft bojep", "data curah hujan harian maksimum" ,"data volume genangan" malah tambah nyut-nyutan.

Udah berhari-hari ini kerjaan sehari-hari gue cuman bengong, udah itu bengong dan bengong lagi.

Gue tau, kalo kebanyakan bengong kaya gitu sama aja gue buang-buang waktu. Makanya dengan acara sok-sokan kemaren gue pengang buku suripin lagi. Dan endingnya gue berhasil ngebaca "satu paragraf".

Yah cuma satu paragraf. Ternyata kapasitas otak gue saat itu cuma mampu menampung curhatan pak suripin tentang drainase itu. Dan lagi-lagi gue balik bengong.

Biar gak bengong gue sok ide lagi, cari info-info yang nyangkut tentang skripsi gue di internet. Tapi endingnya 1 tab itu terkalahkan oleh tab-tab lainnya yang isinya facebook, kaskus, detik dan tab-tab lainnya tentang harga-harga lensa.

Ngomong-ngomong soal lensa, gue lagi ngidam lensa sapu jagad alias lensa yang bisa dibuat makro bisa juga dibuat tele. Berhari-hari, berjam-jam gue cari-cari harga lensa seken yang agak murah dan bisa diterima sama kantong gue, kantong mahasiswa.

Sekalinya nemu yang agak murah, lensanya jamuran, kalo ga ada fognya, kalo ga apanya ada yang retak, auto fokusnya ga jalan. Namanya emang lensa seken kali ya. Pas udah nemu yang oke gue liat ATM gue.

Gue lupa duit gue bulan ini tinggal 200 ribu. Mau minta malu. Masa buat seneng-seneng minta-minta duit *padahal sering, haha*

Tapi emang kalian juga pasti kaya gitu kan, ga bakal minta tambahan duit buat seneng-seneng doang atau cuma sekedar buat hobi. Masti mati-matian nabung, dibela-belain kelaparan ato paling maksimal pake duit beasiswa. Haha.. tapi yang terakhir ini kalo ga kepepet juga ga bakal dipake. Haha.. Atau kalo ga separo dari duit beasiswa buat nambahin bayaran kosan, seperempat tabungan, seperempatnya buat seneng-seneng. Haha...

Udahan ah, haha..