Senin, 13 Mei 2013
Hey Teman Apa Kabarmu Disana?
Berapa tahun?
Aku pun tak ingat.
Aku menemukan ini ketika kubongkar-bongkar foto-foto jaman dulu.
Tulisanmu kawan, sampai sekarang aku masih menjadi salah satu penggemarmu. Masih, dan tulisan-tulisanmu dulu aku masih menantikannya sampai sekarang.
Aku masih jadi penggemarmu kawan :)
Semoga kau tidak lupa, kita masih sahabat walau kata tidak lagi saling terlontar.
Label:
#ngasal,
agak serius,
catatan harian
Hari ini dan empat tahun lalu Perang Obor.
Perang obor 4 tahun yang lalu.
Tidak ada yang ingatkah? Tidak tahu kenapa ini melekat erat, kenangan kita semua.
Menanti waktu dimulainya perang obor dengan menghabiskan waktu di pantai sampai adzan maghrib berkumandang. Menanti satu per satu orang dari kita datang, dengan obrolan yang tidak terlalu penting, membahas apapun yang kita lihat, membahas segala yang ada di hari-hari kita, di sekolah dan di minggu-minggu yang sengaja dilewati bersama. Dari pantai ke pantai, kebun kopi, kebun coklat, kebun karet, haha.. selalu banyak hal aneh yang terjadi ketika kita bersama.
Walau diguyur gerimis tak menghalangi kita untuk tetap menonton perang obor yang memang dinanti-nanti. Ini pertama kalinya. Bara-bara tetap menyala. Api dipasang dalam setiap obor raksasa. Suara-suara bergema. Gerimis tak menghalangi tradisi ini untuk tetap dilaksanakan malam itu. Kita berdesak-desakkan diantara orang-orang lain yang ingin menonton, saling menggandeng tangan teman satu sama lain agar tidak saling berpencar. Kita diantara orang-orang yang penasaran, ingin tahu seseru apa tradisi ini akan berlangsung. Menyesak kanan kiri untuk mendapatkan tempat yang lebih depan, untuk melihatnya lebih jelas. Dan ketika perang dimulai. Aku tak tahu, sensasi apa ini. Tak tahu mengapa apa yang ada di depan mataku ini membuatku benar-benar terperangah, sekumpulan orang membawa obor raksasa yang terbuat dari jerami dan saling memukulkannya satu sama lain. Benar-benar menegangkan, tidak terlihar rasa sakit dari orang-orang yang terkena pukulan obor. Semuanya membara, semangat membara. Tanpa sadar kami mulai berteriak-teriak untuk menyemangati dan memperingati orang yang akan dipukul. Kita terbawa suasana menegangkan ini, semua yang menonton terbawa suasana.
Perang obor berakhir, dan kita putuskan untuk menginap di tempat salah seorang dari kita. Menonton wayang? Jelas itu sebuah tawaran yang tak bisa dilewatkan, sejak kecil aku tergila dengan ketoprak dan wayang walau tidak selalu mengerti apa yang sedang diceritakan. Melihat wayang kulit beraksi dengan suara dalang dan sinden-sinden serta hantaman gamelan yang saling selaras dengan arahan dalang benar-benar menyenangkan. Dan malam itu, diputuskan, kita ke balai desa setelah perang obor usai. Melewati kebun-kebun warga yang gelap, mencari jalan pintas untuk bisa lebih cepat sampai di balai desa. Hmm, sederhana, pertemanan ini begitu sederhana. Kita sampai, kita menatap kanan kiri, banyak warga di setiap sisi. Tak ada kursi yang tersisa. Kita menonton sambil berdiri, wayang beraksi, dalang mengayun wayang kulit ke kanan kiri, menjalankan cerita yang tak aku mengerti, sinden bernyanyi dan bunyi gamelan tak pernah mati. Menyenangkan, melihat wayang saling bertabrakan melakukan adegan perang. Suara dalang yang berganti-ganti, cerita yang mulai kami mengerti. Wayang usai dilanjut dengan ketoprak, balai desa mulai sepi karena hari semakin larut dalam gelap, dan kami akhirnya mendapat kursi. Ketoprak ini lebih ringan, kami tertawa-tawa sepanjang malam dengan lawakan-lawakan yang disajikan. Haha, tak terasa hampir tengah malam dan diputuskan untuk pulang ke rumah salah satu dari kita. Tidur seperti ikan pepes, dengan sebelumnya menyantap gemblong ketan. Pagi datang, pantai lagi dan kembali ke rumah masing-masing, dan sendalku tak lagi menjadi sepasang.
Sudah empat tahun, dan hari ini perayaan Perang Obor yang telah dikoar-koarkan di media sosial berbulan-bulan yang lalu akan dilaksanakan lagi. Perang Obor hari ini, aku pun sebenarnya ingin melihatnya lagi bersama kalian. Dengan rangkaian gerimis, wayang, dan ketoprak orang yang tak bisa terlupakan.
Salam sayang dari temanmu ini yang sedang merindukan kalian. Semoga apa yang kalian lakukan tidak sia-sia dan kita bisa menjadi seseorang yang bisa membanggakan kedua orang tua kita. Semoga kita menjadi seseorang yang tidak akan pernah lupa dengan masa lalu yang menempa kita, dan tetap melihat masa depan sebagai sebuah kesempatan yang tak boleh disia-siakan.
Dan kaki-kaki ini boleh jadi menjadi saksi, bahwa kita nanti akan menjadi yang lebih baik lagi.
Tidak ada yang ingatkah? Tidak tahu kenapa ini melekat erat, kenangan kita semua.
Menanti waktu dimulainya perang obor dengan menghabiskan waktu di pantai sampai adzan maghrib berkumandang. Menanti satu per satu orang dari kita datang, dengan obrolan yang tidak terlalu penting, membahas apapun yang kita lihat, membahas segala yang ada di hari-hari kita, di sekolah dan di minggu-minggu yang sengaja dilewati bersama. Dari pantai ke pantai, kebun kopi, kebun coklat, kebun karet, haha.. selalu banyak hal aneh yang terjadi ketika kita bersama.
Walau diguyur gerimis tak menghalangi kita untuk tetap menonton perang obor yang memang dinanti-nanti. Ini pertama kalinya. Bara-bara tetap menyala. Api dipasang dalam setiap obor raksasa. Suara-suara bergema. Gerimis tak menghalangi tradisi ini untuk tetap dilaksanakan malam itu. Kita berdesak-desakkan diantara orang-orang lain yang ingin menonton, saling menggandeng tangan teman satu sama lain agar tidak saling berpencar. Kita diantara orang-orang yang penasaran, ingin tahu seseru apa tradisi ini akan berlangsung. Menyesak kanan kiri untuk mendapatkan tempat yang lebih depan, untuk melihatnya lebih jelas. Dan ketika perang dimulai. Aku tak tahu, sensasi apa ini. Tak tahu mengapa apa yang ada di depan mataku ini membuatku benar-benar terperangah, sekumpulan orang membawa obor raksasa yang terbuat dari jerami dan saling memukulkannya satu sama lain. Benar-benar menegangkan, tidak terlihar rasa sakit dari orang-orang yang terkena pukulan obor. Semuanya membara, semangat membara. Tanpa sadar kami mulai berteriak-teriak untuk menyemangati dan memperingati orang yang akan dipukul. Kita terbawa suasana menegangkan ini, semua yang menonton terbawa suasana.
Perang obor berakhir, dan kita putuskan untuk menginap di tempat salah seorang dari kita. Menonton wayang? Jelas itu sebuah tawaran yang tak bisa dilewatkan, sejak kecil aku tergila dengan ketoprak dan wayang walau tidak selalu mengerti apa yang sedang diceritakan. Melihat wayang kulit beraksi dengan suara dalang dan sinden-sinden serta hantaman gamelan yang saling selaras dengan arahan dalang benar-benar menyenangkan. Dan malam itu, diputuskan, kita ke balai desa setelah perang obor usai. Melewati kebun-kebun warga yang gelap, mencari jalan pintas untuk bisa lebih cepat sampai di balai desa. Hmm, sederhana, pertemanan ini begitu sederhana. Kita sampai, kita menatap kanan kiri, banyak warga di setiap sisi. Tak ada kursi yang tersisa. Kita menonton sambil berdiri, wayang beraksi, dalang mengayun wayang kulit ke kanan kiri, menjalankan cerita yang tak aku mengerti, sinden bernyanyi dan bunyi gamelan tak pernah mati. Menyenangkan, melihat wayang saling bertabrakan melakukan adegan perang. Suara dalang yang berganti-ganti, cerita yang mulai kami mengerti. Wayang usai dilanjut dengan ketoprak, balai desa mulai sepi karena hari semakin larut dalam gelap, dan kami akhirnya mendapat kursi. Ketoprak ini lebih ringan, kami tertawa-tawa sepanjang malam dengan lawakan-lawakan yang disajikan. Haha, tak terasa hampir tengah malam dan diputuskan untuk pulang ke rumah salah satu dari kita. Tidur seperti ikan pepes, dengan sebelumnya menyantap gemblong ketan. Pagi datang, pantai lagi dan kembali ke rumah masing-masing, dan sendalku tak lagi menjadi sepasang.
Sudah empat tahun, dan hari ini perayaan Perang Obor yang telah dikoar-koarkan di media sosial berbulan-bulan yang lalu akan dilaksanakan lagi. Perang Obor hari ini, aku pun sebenarnya ingin melihatnya lagi bersama kalian. Dengan rangkaian gerimis, wayang, dan ketoprak orang yang tak bisa terlupakan.
Salam sayang dari temanmu ini yang sedang merindukan kalian. Semoga apa yang kalian lakukan tidak sia-sia dan kita bisa menjadi seseorang yang bisa membanggakan kedua orang tua kita. Semoga kita menjadi seseorang yang tidak akan pernah lupa dengan masa lalu yang menempa kita, dan tetap melihat masa depan sebagai sebuah kesempatan yang tak boleh disia-siakan.
Dan kaki-kaki ini boleh jadi menjadi saksi, bahwa kita nanti akan menjadi yang lebih baik lagi.
Label:
#ngasal,
agak serius,
awan untuk langit,
catatan harian
Kamis, 09 Mei 2013
Tap tap tap
Tidak ada seorangpun yang ingin tahu siapa sebenarnya saya. Apa saya ini teroris, penjahat atau koruptor, tak ada seorangpun yang ingin tahu. Karena memang sepertinya tidak ada penting-pentingnya bagi mereka dan tidak ada manfaatnya sama sekali.
Masa lalu apa lagi? bertahun saya menguburnya dalam-dalam. Awas saja kalau ada yang mengangkatnya ke permukaan. Tak akan sudi saya menatap wajah orang itu, mendengar suaranya apa lagi.
Haha, dunia memang aneh. Bisa mengubah manusia tanpa kata menjadi seorang pembual, bisa merubah penganiaya menjadi seseorang super alim yang bahkan saya pun tidak bisa mendekatinya sama sekali. Kau yang jahat tidak selamanya jahat, dan kau yang baikpun tidak akan selamanya baik.
Pintu itu, langkah kaki, es teh manis, dan saya si muka kotak. Rangkaian yang bahkan saya sendiri tidak tahu, mengapa Allah merencanakannya seperti itu. Satu tahun pertama, tak bisa percaya pada siapapun, di tahun kedua tetap sama, tahun ketiga sampai tahun terakhir semakin tidak percaya bahwa makhluk yang bernama teman itu ada.
Dulunya pun saya ini manusia penuh harapan. Menjadi lebih baik, menjadi lebih pintar, menjadi lebih untuk kedua orang tua saya. Tapi sekarang? Karena sebuah sesi yang melepas jangkar saya dan melepas kapal saya, membuat saya terombang-ambing. Meragukan dunia, meragukan siapapun yang akan dipercaya.
Masa lalu apa lagi? bertahun saya menguburnya dalam-dalam. Awas saja kalau ada yang mengangkatnya ke permukaan. Tak akan sudi saya menatap wajah orang itu, mendengar suaranya apa lagi.
Haha, dunia memang aneh. Bisa mengubah manusia tanpa kata menjadi seorang pembual, bisa merubah penganiaya menjadi seseorang super alim yang bahkan saya pun tidak bisa mendekatinya sama sekali. Kau yang jahat tidak selamanya jahat, dan kau yang baikpun tidak akan selamanya baik.
Pintu itu, langkah kaki, es teh manis, dan saya si muka kotak. Rangkaian yang bahkan saya sendiri tidak tahu, mengapa Allah merencanakannya seperti itu. Satu tahun pertama, tak bisa percaya pada siapapun, di tahun kedua tetap sama, tahun ketiga sampai tahun terakhir semakin tidak percaya bahwa makhluk yang bernama teman itu ada.
Dulunya pun saya ini manusia penuh harapan. Menjadi lebih baik, menjadi lebih pintar, menjadi lebih untuk kedua orang tua saya. Tapi sekarang? Karena sebuah sesi yang melepas jangkar saya dan melepas kapal saya, membuat saya terombang-ambing. Meragukan dunia, meragukan siapapun yang akan dipercaya.
Label:
#ngasal,
agak serius,
catatan harian
Langganan:
Postingan (Atom)
