Membiarkan memori ini terus berkunang. Membias dan menjadi tak jelas antara mimpi, pengharapan dan kenyataan. Menjadikannya menjadi sebuah fiksi yang dilegalisasi. Sebisa mungkin menjauhkan teriakan-teriakan untuk berhenti, menjadikannya samar, menyamarkan dengungnya.
Kuas-kuas yang catnya dibiarkan membekas, untuk menjadikannya kaku dan tak bisa diubah, pengaruh untuk tetap terus mendominasi.
Sabtu, 16 Februari 2013
Aku dan kalian
Dan kita akan kembali menyusuri langit. Biru ataupun saat senja aku tak peduli. Entah kapanpun itu aku akan tetap menunggu. Ketika keangkuhan tak lagi menjadi nomor satu dan kebersamaan menjadikan aku dan kalian selalu ingin menyatu. Tak ada dalang-dalang lain yang akan mengganggu jalan cerita kita. Lakon-lakon hanya kita yang menciptakannya, sesuka kita, sesuka imajinasi kita mau berlari kemana.
Kita tak akan takut dengan gelapnya jalan-jalan. Tak butuh obor di tangan, hanya kepercayaan untuk tetap bergandengan dan tetap percaya diantara kita. Aku yakin kita akan kembali ke awan yang sama untuk menyusuri langit yang sama.
Kita tak akan takut dengan gelapnya jalan-jalan. Tak butuh obor di tangan, hanya kepercayaan untuk tetap bergandengan dan tetap percaya diantara kita. Aku yakin kita akan kembali ke awan yang sama untuk menyusuri langit yang sama.
Label:
awan untuk langit,
Puisi
Aku tidak tahu bagaimana caranya, kawan.
Hijau kembali lagi. Menawarkan senyum menawan yang tak lekang, hanya sementara. Seakan mengejekku perlahan. Aku yang selalu menghela napas di setiap kesempatan. Menyenangkankah kawan? belaian-belaian awan yang kau rasakan? dan teriknya sang surya dihamparan, tidakkah kau membiarkanku untuk melihatnya pula?
Langkah yang kau tinggalkan membekas di tanah merah, tak terhapus oleh amarah dan tak pernah berganti arah. Tak bisakah kakimu berhenti bergerak sejenak,menghentikan langkahmu untuk sekedar menengok ke belakang? Atau kau akan terus berjalan,meninggalkan bayang yang tak tahu caranya untuk tidak tetap mengikuti jejakmu?
aku tidak tahu bagaimana caranya kawan.
Langkah yang kau tinggalkan membekas di tanah merah, tak terhapus oleh amarah dan tak pernah berganti arah. Tak bisakah kakimu berhenti bergerak sejenak,menghentikan langkahmu untuk sekedar menengok ke belakang? Atau kau akan terus berjalan,meninggalkan bayang yang tak tahu caranya untuk tidak tetap mengikuti jejakmu?
aku tidak tahu bagaimana caranya kawan.
Label:
#ngasal,
agak serius,
awan untuk langit,
catatan harian,
Puisi
Langganan:
Postingan (Atom)