Jumat, 10 Januari 2014

Untitled.

Ada yang kosong, memelas meminta tahta akan sesuatu tak nyata. Bergumul dalam kepala sang raja, apa ini sesuatu yang hendaknya dihujat untuk mati, dicerca agar tak bernyawa. Ataukah ini hanya sekelebat derma yang seakan-akan disucikan padahal hanya janji buta yang maya, tak ada bentuknya.

Lalu disana, banyak penduduk yang seakan tak bermata. Memandang semuanya dengan telinga, mendengar semuanya dengan rasa. Lalu hanya bisa menghujat dan mengiba dengan mulutnya. Seakan mereka sudah mati fikirnya, lenyap akalnya, hanya bertindak berdasar apa yang mereka suka.

Di sisi lain ada manusia-manusia lain yang tak berpedoman pada apapun, tak mempercayai tahta sang raja, hujatan penduduk, bahkan tidak peduli dengan langit yang bukan langitnya, bumi yang bukan buminya dan tanah yang bukan tanahnya. Mereka punya akal, terlalu pintar untuk  dikatakan tak berakal. Mereka hanya tak peduli, tak mau mengerti.

Rabu, 18 Desember 2013

Dunia memang begitu lucu

Terkadang hidup begitu lucu. Dulu ketika kau memilih menutup matamu, semua seakan baik-baik saja. Dia, mereka dan semua orang yang ada didepanmu adalah sosok-sosok yang mengagumkan, membuatmu terpana dengan segala kisah mereka, segala polah mereka, seakan mereka begitu sempurna.

Dulu ketika kau menutup matamu, dunia seakan baik-baik saja. Tak ada yang perlu kau khawatirkan kecuali kisahmu sendiri dan bagaimana kau makan esok hari. Dulu, ketika kau menutup matamu dan acuh dengan dunia di sekitarmu.

Namun "dulu" telah dihujam kata "melaju". Waktu melaju. Dan kisah tetap berlanjut.
Dan aku katakan lagi, dunia begitu lucu.

Ketika mata mulai terbuka. Semua kisah semakin terlihat nyata. Namun sekarang semuanya tidak begitu terlihat sempurna. Ada retak di kanan kiri. Bahkan ada kawat-kawat yang mencuat dari pondasi yang mereka bilang dibangun lebih dari seabad yang lalu saking lamanya.

Dan tokoh juga silih berganti. Dalam cerita yang sama dengan topik yang sama. Mungkin kau dulunya adalah tokoh utama, namun waktu berkata lain dan tanpa kau mau kau menyingkir karena Sang Sutradara berkata lain.

Ada pula dua cerita yang berbeda, dengan tema yang sama dan aku mendengar dari sisi yang berbeda. Dan ketika aku hubungkan keduanya, aku rasa intinya sama. Dunia memang begitu lucu.

Banyak hal yang menyakiti, banyak mulut yang terlalu berambisi, banyak tingkah yang tidak terprediksi. Karena inilah dunia, inilah dunia yang begitu lucu. Saking lucunya hingga akhirnya kau yang dulu menertawakannya sekarang dunialah yang menertawakanmu. Karena dunia begitu lucu dan kamu hanya cukup bersyukur untuk dunia yang begitu lucu ini.

Aku mencium bau perpecahan.

Aku mencium bau perpecahan. Disaat setiap orang mulai lelah dan merasa terbunuh oleh rutinitas. Disaat beban setinggi kepala terus menumpuk hingga tak lagi mampu ditahan. Dan ketika penat merajai ubun-ubun, membuat kepala ingin meledak dan semua orang tidak bisa menahannya, aku mulai mencium bau perpecahan.

Aku mencium bau perpecahan. Ketika kawan menjadi lawan, bahkan untuk sesuatu yang tidak benar-benar diharapkan. Ketika ucapan adalah sebuah dusta yang dipertahankan, dibenarkan dengan segala pembenaran. Ketika ingkar terungkapkan dan ikatan menjadi berantakan. Aku semakin mencium bau perpecahan.

Rutinitas, benci, ingkar, dusta, dan pisau yang menghujam dari belakang, aku mohon kalian bisa memaafkannya.

Agar aku dan kalian tak lagi mencium bau perpecahan diantara ikatan yang sudah susah payah kita pintal bersama.