Selasa, 16 Oktober 2012

Bicara sebentar tentang si "Lingkungan"

Lingkungan itu bagaikan seseorang yang berkorban. Dia dimanfaatkan habis-habisan oleh manusia tapi apa timbal baliknya bagi dia? Tidak ada. Yang dia dapat hanyalah kerusakan, penghancuran, pencemaran. Apa pula manusia ini, sudah dikasih banyak tak mau pula membalasnya. Tebang sana tebang sini, buang sampah di kali seenak hati padahal tau airnya bakal di pakai mandi. Seperti tak tau diri, sudah tahu lingkungan sedang sekarat hampir mati, malah terus-terusan membuang sampah disana-sini, tebang sana tebang sini. Pas rusaknya sudah parah baru teriak-teriak mau memperbaiki. Telat. Kenapa tidak dijaga sejak awal, pengeksploitasiannya dikawal agar tak berlebihan merusak. Malah sengaja diambil sampai habis biar untungnya bisa buat beli ratusan bis.

Apa pula manusia ini, sok keren ganti baju satu jam sekali macam artis saja. Sudah itu pakai barang sekali pakai, sesudahnya dibuang. Nambah-nambahin limbah saja. Sudah tau sampah sudah banyak, masih pula gonta-ganti barang seenak jidat. Mentang-mentang punya duit ratusan karung, beli ini itu tak dipikir dulu. Ujung-ujungnya dibuang lagi dibuang lagi.

Sudah gede mbok ya sadar. Lingkungan itu sudah tua, sudah renta kalo kata orang tua bilang. Tak akan bertahan lama kalau tak ada yang mau menjaga. Lha kita yang sudah minta-minta ke dia yang harusnya menjaga, membuatnya tetap sustain. Toh kita sendiri nantinya yang dapat manfaatnya. Ibaratnya kalau lingkungan tambah sehat tambah berseri ya orang-orang di dalamnya juga semakin sehat dan berseri-seri macam bayi yang baru dimandikan, seger dan wangi.

Listrik di hemat, matikan saja peralatan-peralatan elektronik itu kalau sudah tidak dipakai. Air pun dihemat, tak usahlah pakai acara sabunan lima kali, gosok gigi tujuh kali, keramas delapan kali. Buang-buang waktu dan buang-buang air. Sampah juga perhatikan. Kalau bisa kurangi pemakaian barang, terutama plastik, ya kurangi saja. Tak perlu lah beli air minum kemasan kalau masih bisa masak air sendiri. Beli tempat minum yang bisa dipakai berkali-kali, itu jauh lebih hemat dan limbahnya juga jauh lebih sedikit dibanding harus beli air kemasan tiap hari. Pikir-pikir pula kalau mau beli barang baru, benar-benar dibutuhkan tidak. Jangan sampai sudah beli malah endingnya nambah-nambahin benda di tong sampah, tambah pula itu limbahnya.

Cinta lingkungan itu ibaratnya sedang menabung untuk mencintai diri sendiri, keluarga, dan orang lain.
Cinta lingkungan itu ibaratnya sedang menabung untuk kesehatan yang lebih baik lagi dan menjadikan otak yang semakin segar untuk menerima ilmu-ilmu yang baru lagi.

Perubahan itu Mutlak

Kata orang bijak perubahan itu mutlak adanya. Tak mengharapkan keberadaannya pun dia akan selalu ada.
Perubahan itu tak butuh tanda tanya, tak butuh tanda seru berlipat-lipat ganda, jika tiba saatnya dia datang saja. Perubahan itu tidak identik dengan sama dengan tapi identik dengan tak terhingga. Yah, tak terhingga saking banyaknya. Dalam setiap jam, setiap menit, setiap detik, setiap milidetik, mikro detik semua hal berubah. Telur menetas menjadi anak ayam yang unyu-unyu, anak ayam jadi ayam dewasa yang siap digoreng dengan tepung #nyamnyam #ngelantur. Kepompong berubah menjadi kupu-kupu, debu dihidung berubah jadi upil #haiyah. Semuanya berubah, mulai dari hal terkecil sampai hal yang paling besar.
Begitu pula sikap dan sifat. Ada orang yang berubah menjadi jahat ada pula yang berubah menjadi baik. Bersyukurlah untuk orang-orang yang semakin hari sifatnya semakin baik, sikapnya semakin baik pula. Tak ada kerugian bagi orang-orang seperti itu. Tapi untuk orang-orang yang sifat dan sikapnya memburuk, banyak-banyaklah beristighfar. Akupun demikian banyak-banyak pula aku beristighfar. Memperbaiki diri untuk sesuatu yang lampau yang teramat merugikan. Memperbaiki sifat yang dibenci Allah, sifat malas, iri, dengki, berprasangka buruk, menyakiti saudaranya dengan perkataan yang menyakiti hati. Memperbaiki sikap dalam kehidupan sehari-hari, mempeka-kan diri terhadap keadaan sekitar, lingkungan sekitar. Tidak melulu berfikir negatif dan menyalahkan keadaan, tidak melulu mencari pembenaran untuk segala kesalahan, mencari kesalahan orang lain untuk membenarkan argumen yang belum tentu benar.

Semoga Allah membukakan hatiku dan hati kita untuk memperbaiki diri dan mengakui kesalahan yang telah aku dan kita perbuat. Semoga Allah membukakan pintu tobat untuk dosa-dosa yang telah kita lakukan.

Bismillahirrahmanirrahim.
Ya Allah, jikalau aku harus berubah aku ingin berubah menjadi lebih baik, menjadi yang lebih berguna dan bermanfaat bagi sesama.  Ya Allah, terangkanlah pikiran hamba, untuk bisa membedakan mana yang buruk dan mana yang baik, kuatkanlah tekad hamba untuk menjauhi apa yang Engkau benci dan memperdalam apa yang Engkau perintahkan.
Amin.
 

Aku Sayang Mama dan Bapak karena Allah

"Cinta orangtua pada anaknya itu tidak ada bandingnya"

Dulu ketika aku masih tinggal bareng orang tuaku, satu atap, setiap hari ketemu, setiap malam "njagong" bareng di teras rumah, belum terasa sekali kata-kata itu. Acuh kali ya aku waktu itu. Tak peduli sana-sini, melakukan apapun seenak hati, suruh sana suruh sini. Astaghfirullahaladzim lah kalo nginget-inget kelakuanku yang super duper egois kaya dulu. Maunya menang sendiri, maunya diperhatiin sendiri, kalo gak diturutin ngambek, kunci pintu, gak mau ngomong. Bener-bener childish.
Tapi sekarang ketika di perantauan, ketika suara orang tua jarang didengar, ketika wajah mereka yang selama 16 tahun aku tatap setiap hari, aku pandangi setiap pagi tiba-tiba saja tak bisa aku tatap lagi karena sebuah perguruan tinggi resmi menerimaku sebagai salah satu mahasiswa dari Departemennya. Suara yang dulu membangunkan tiap pagi, sarapan yang tak pernah lewat dari jam setengah tujuh pagi, teriakan yang selalu bergema yang selalu menyuruhku untuk berjamaah di masjid dan mengaji setiap habis maghrib kini jarang sekali aku dengar.
Kangen? sangat. Sudah hampir 3 tahun dan aku di perantauan. Di sebuah kota yang katanya kota hujan. Tapi tetap saja, homesick tak bisa dicegah.
Dua hari yang lalu, malam hari. Aku telpon mamaku, mau cerita dan minta bantuan. Tanpa banyak ba-bi-bu terjawab semua pertanyaanku, dibantu pula aku. Tak peduli seberapa besar biayanya. Terharu sekali aku waktu itu. Sementara harapan mama dan bapakku begitu besar kepadaku, aku disini malah sibuk donlod film korea dan baca manga online. Merasa bersalah sekali diriku. Beberapa kalimat yang aku ingat betul, yang membuatku merasa jadi anak yang tak berbakti selama ini,

"Kamu belajar sing tenanan, masalah biaya gak usah dipikirin. Buat kamu sama masjo bapak sama mama pasti usahain. Bapak sama mama pasti doain"

Langsung makjleb, merasa bersalah sangat atas perilaku yang udah aku lakuin. Merasa bersalah karena beratus-ratus jam terbuang percuma, tanpa membaca tanpa bertambah ilmuku.

Mama, Bapak.. Indik minta maaf sebesar-besarnya karena telah membuang-buang waktu dan membuang-buang biaya yang telah kalian keluarkan untukku. Indik minta maaf karena hampir tiga tahun ini terus bermalas-malasan, menyalahkan keadaan. Maaf juga untuk IP yang terus-terusan terjun bebas. Semoga di semester ini bisa naik lagi dan bisa bikin  bapak dan mama bangga lagi. Terus doain indik ya ma, pak..
Semoga Indik jadi anak yang berguna, jadi orang yang bisa bermanfaat, jadi orang yang tidak malas berpikir dan jadi orang sukses nantinya.
Semoga apa yang telah kalian korbankan, kalian usahakan untukku dan untuk pendidikanku tidak sia-sia.
Amin.

"Aku sayang bapak dan mama karena Allah"
*ikut-ikutan Delisha di Hafalan Shalat Delisha, tapi ini memang tulus dari hati dan otak yang sedang sinkron*