Jumat, 06 Desember 2013

Lagi ngobrol sama phil.

Hai phil, tidakkah kau rindu pada saudaramu lil?
Sudah lama kalian tidak bertemu, apakah dia masih seperti dulu adanya? Mungkin dia menjadi lebih dewasa, lebih bijak dari biasa. Mungkin dia telah menjelajah dunia yang dulu diidamkannya.

Catatanmu darinya menghilang bukan berarti kau menghilangkannya dari hidupmu. Saudara tetaplah saudara. Sahabat tetaplah sahabat. Walau bertahun kau tak berjumpa, tak bertukar sapa, tetap saja dia adalah dia adanya.

Terkadang kau ingin meneriakkan namanya, mendengar suaranya, mendengar ceritanya, bernyanyi bersamanya. Tapi ada yang menghalangimu. Kau takut ada yang berubah, kau takut dia menganggapmu berubah. Kau takut dia tak lagi mendengarkanmu ketika kau membagi keluh kesah. Kau hanya takut dan tiba-tiba hingga bertahun-tahun kalian tak lagi berbagi kabar dan dia semakin tersamar.

Kau ingin menyapanya tapi kau ragu, apa dia akan menjawabmu seperti dulu dia menjawab segala bincangan tak pentingmu. Sekali dua kali kau coba, seakan orang yang berbeda yang menanggapimu. Seakan ketus, dan menganggapmu orang asing. Atau itu hanya bayanganmu saja?

Kau phil, walau kau tak pernah berjumpa dengannya, walau kau tak lagi mendengar suaranya. Jangan pernah lupa, dia dulu adalah orang yang selalu menghargaimu, dan kau pun menghargainya. Dia orang yang kau kagumi setengah mati, yang memberimu inspirasi, yang mengajarimu bermimpi alih-laih terus-terusan membual setiap hari. Dia yang mengajarimu berfikir lebih logis, menumbuhkan bakatmu yang malah kau matikan sendiri sekarang.

Dia saudaramu. Sahabatmu.

#Edisi ngomong sama boneka kura-kura

Rabu, 23 Oktober 2013

datang lagi

memegang tuas ini lagi
untuk membuka lagi layar yang lama tak tersentuh
ini bukan inginku
tapi memori-memori ini mulai mencuat lagi
menjalar-jalar, meledak-ledak siap untuk membakar,
kaki mencoba menghindar
gentar
gentar
merasa gentar menghadapkan pandangan untuk menatapnya lagi
layar-layar itu, kertas-kertas itu menghakimiku lagi
dan aku hanya bisa meringkuk
mencoba merengkuh apapun yang bisa melindungiku
namun kosong yang kudapat
berharap dia terbunuh dalam khianat

Hah !!!

aku pikir aku akan mati lagi dalam euforia.
membebatku perlahan dalam tawa,
menunggu rana menangkap cahaya,
semakin cepat, nyawa semakin terangkat
cahaya menjalar membakar medium,
senyum mereka terkulum.
apa aku harus kembali mengumbar senyum?