Menjadikannya lengkung-lengkung berapi, menjadi-jadi menjadi jari-jari yang menautkan hari-hari yang sepi. Berlari lagi, berlari-lari di lembah yang menghampa, yang menginginkan cahaya menghamba. Meninggalkan mentari yang tak mau ikut berpartisipasi, biar gelap yang menemani.
Arrggghh. Random ini menyeretku dalam lubang yang tak ku kenali. Berputar-putar dalam pijakan yang sama, berputar-putar dan ketika aku menengok ke bawah semua masih terlihat sama. Ketika aku menengok ke depan, ke belakang, ke samping kanan dan kiri, semuanya masih sama saja. Namun ketika putaran itu terhenti dan aku melangkahkan satu kakiku tanah memerah, awan merekah, datang terpisah-pisah, dunia ini ternyata telah berubah. Aku merasa bodoh, terpaku pada satu titik dimana aku diputar-putar dengan berbagai macam stigma dan paradigma hampa.
Minggu, 14 Juli 2013
Selasa, 11 Juni 2013
Kotak Persegi
lama aku pergi
dan sekarang aku kembali
menari-nari dalam kotak persegi
bersiap untuk dipasung lagi
lama aku pergi
untuk mengejar mimpi
tapi yang datang malah yang tak pasti
dan aku kembali lagi
dalam kotak persegi
kotak persegi
yang lama dibuat mati
karena di dalamnya kami tak pernah melihat pelangi
apalagi matahari di pagi hari
kotak persegi
yang hanya merekam ironi
serta sajak-sajak dan elegi
dan keinginan untuk segera pergi
kotak persegi
kungkungan untuk segera mati.
dan sekarang aku kembali
menari-nari dalam kotak persegi
bersiap untuk dipasung lagi
lama aku pergi
untuk mengejar mimpi
tapi yang datang malah yang tak pasti
dan aku kembali lagi
dalam kotak persegi
kotak persegi
yang lama dibuat mati
karena di dalamnya kami tak pernah melihat pelangi
apalagi matahari di pagi hari
kotak persegi
yang hanya merekam ironi
serta sajak-sajak dan elegi
dan keinginan untuk segera pergi
kotak persegi
kungkungan untuk segera mati.
Label:
Puisi
Entah
entah
ini serasa enyah
hanya membuat gerah
entah
atau ini waktu untuk berbenah
lari dari emosi yang tercurah
agar tak lagi lengah
entah
aku merasa lemah
tak lagi mampu meredam masalah
selalu merasa bersalah
entah
tak ada lagi yang terlihat gagah
tak ada lagi yang mampu berulah
tak ada lagi yang mengumbar langkah
mati perlahan
perlahan-lahan
dalam entah yang ditahan-tahan
dengan entah yang tak terucapkan
mati perlahan
tak terlihat dari haluan
tertinggal dalam buritan
dengan jeritan-jeritan
yang teredam oleh kegelapan
dengan teriakan-teriakan
yang terpendam dalam tanah dan papan
entah
rasa ini mati perlahan
perlahan-lahan.
ini serasa enyah
hanya membuat gerah
entah
atau ini waktu untuk berbenah
lari dari emosi yang tercurah
agar tak lagi lengah
entah
aku merasa lemah
tak lagi mampu meredam masalah
selalu merasa bersalah
entah
tak ada lagi yang terlihat gagah
tak ada lagi yang mampu berulah
tak ada lagi yang mengumbar langkah
mati perlahan
perlahan-lahan
dalam entah yang ditahan-tahan
dengan entah yang tak terucapkan
mati perlahan
tak terlihat dari haluan
tertinggal dalam buritan
dengan jeritan-jeritan
yang teredam oleh kegelapan
dengan teriakan-teriakan
yang terpendam dalam tanah dan papan
entah
rasa ini mati perlahan
perlahan-lahan.
Label:
Puisi
Langganan:
Postingan (Atom)