lama aku pergi
dan sekarang aku kembali
menari-nari dalam kotak persegi
bersiap untuk dipasung lagi
lama aku pergi
untuk mengejar mimpi
tapi yang datang malah yang tak pasti
dan aku kembali lagi
dalam kotak persegi
kotak persegi
yang lama dibuat mati
karena di dalamnya kami tak pernah melihat pelangi
apalagi matahari di pagi hari
kotak persegi
yang hanya merekam ironi
serta sajak-sajak dan elegi
dan keinginan untuk segera pergi
kotak persegi
kungkungan untuk segera mati.
Selasa, 11 Juni 2013
Entah
entah
ini serasa enyah
hanya membuat gerah
entah
atau ini waktu untuk berbenah
lari dari emosi yang tercurah
agar tak lagi lengah
entah
aku merasa lemah
tak lagi mampu meredam masalah
selalu merasa bersalah
entah
tak ada lagi yang terlihat gagah
tak ada lagi yang mampu berulah
tak ada lagi yang mengumbar langkah
mati perlahan
perlahan-lahan
dalam entah yang ditahan-tahan
dengan entah yang tak terucapkan
mati perlahan
tak terlihat dari haluan
tertinggal dalam buritan
dengan jeritan-jeritan
yang teredam oleh kegelapan
dengan teriakan-teriakan
yang terpendam dalam tanah dan papan
entah
rasa ini mati perlahan
perlahan-lahan.
ini serasa enyah
hanya membuat gerah
entah
atau ini waktu untuk berbenah
lari dari emosi yang tercurah
agar tak lagi lengah
entah
aku merasa lemah
tak lagi mampu meredam masalah
selalu merasa bersalah
entah
tak ada lagi yang terlihat gagah
tak ada lagi yang mampu berulah
tak ada lagi yang mengumbar langkah
mati perlahan
perlahan-lahan
dalam entah yang ditahan-tahan
dengan entah yang tak terucapkan
mati perlahan
tak terlihat dari haluan
tertinggal dalam buritan
dengan jeritan-jeritan
yang teredam oleh kegelapan
dengan teriakan-teriakan
yang terpendam dalam tanah dan papan
entah
rasa ini mati perlahan
perlahan-lahan.
Label:
Puisi
Kamis, 30 Mei 2013
Derik-derik kaki menari
16 April 2013 [15:52]
" Derik-derik kaki menari "19 April 2013 [07:51]
" Bukannya tidak suka, hanya menghindari benci yang menjadi "[07:54]
" Jendela dalam rangka. Tak peduli cahaya menerobosnya. Membiarkannya tanpa pernah mendispersinya, membiarkannya terefleksi. Sepi. "01 Mei 2013 [15:36]
" Hidup suka-suka kamu. Suka-suka hidup kamu. "[15:39]
" Bahkan aku tidak bisa melihat hujan "[15:43]
" Derasnya saja terasa, atau ini hanya mati rasa? Atau memang harus merasakannya? Kosong di dada dengan nafas yang tertahan oleh lika-liku jalan. Hampa. Salah perhitungan "[15:46]
" Ditempa, diterpa. Aku hanya bingung mau kemana. Hampa ini terus merejam, seakan menyeret ke jahanam. Merasa sendirian di ramainya ruang. Dan Tuhan menyengajakan, untuk diriku merasakan tamparan badai ini dalam balutan derasnya hujan "[15:48]
" Aku benci jika kosong ini kembali. Ditinggal mati oleh rasa-rasa memiliki. Apa aku harus pergi lagi? Kenapa siklus ini harus selalu terjadi ? "[15:51]
" Itu pilihanmu. Apa masih mau menerjang atau membiarkan ini semua reda dulu "[15:52]
" Aku pikir itu kamu. Angin ini biar aku yang merasakannya sendiri. Biar aku sadar dan tak terus-terusan berlari. "[15:53]
" Hujan ini berjalan tanpa henti, aku hanya menatap mereka yang terus-terusan berlari"[15:54]
" Memberikanku harga mati? Atau menyengajakan untuk mati? Mati hati. Hati mati. "[15:55]
" Tersakiti sendiri, lebih baik tak mendengarkan sedikitpun isu. Biar tak melulu jadi benalu "[15:58]
" Menjerat diri sendiri dalam kehampaan. Lalu kenapa? Harus berteriak-teriak bangga?"[15:59]
" Tidak akan sengaja membiarkannya berubah warna "
" Kapan reda? Kapan tak lagi terasa?"
Label:
#ngasal,
catatan harian
Langganan:
Postingan (Atom)